#11 Dari Jongos jadi admiral

 

(Surat Iwan untuk Lamsihar Simamora, teman kuliah, di California, Amerika Serikat)

 

Laut Jawa, 17 Juni 2011

 

Hari menjelang sore, KM KELUD dalam pelayarannya menuju Batam. Sambil menikmati semilir angin laut aku bersandar pada railing yang memagari tepian kapal di dek 6. Kuperhatikan suasana sekeliling, tampak semakin banyak penumpang yang keluar dari kamar mereka untuk mencari udara segar. Cuaca memang sedang bagus, matahari yang sudah tak terlalu galak tengah bersembunyi di antara gumpalan awan kumulus yang menyerupai bunga kol raksasa, tubuhnya bersiap lingsir di ufuk barat.

Melihat ke barat, aku jadi teringat pada dirimu yang sekarang ada di California sana. Segera terlintas kenangan bertahun lalu saat kau bertanya di mana tempat belajar Bahasa Inggris yang murah di Jakarta. Saat kutunjukkan tempat termurah, kau bilang itu pun masih terlalu mahal. Lucu kalau kuingat kau sedang memandangi buku-buku berbahasa Inggris yang ada di perpustakaan kampus waktu itu. Jangankan Bahasa Inggris, Bahasa Indonesiamu pun sering jadi bahan gurauan di antara teman-teman karena masih bergaya tembak langsung khas Sipirok.

Setelah bertahun-tahun kita tak berjumpa, terus terang aku terkejut ketika pada suatu hari menerima telepon darimu. Katamu, kau sedang belajar Bahasa Inggris gratis, di Detroit, Amerika. Aku kaget tapi juga kagum pada kegigihanmu. Apakah kau terinspirasi oleh Sitor Situmorang, orang Batak yang pernah tinggal di Paris itu, hingga kau nekat meninggalkan Indonesia?

Kalau benar kau pergi ke Amerika dengan cara menjadi penumpang gelap di kapal pengangkut barang, itu mirip kisah dalam buku Dari Jongos Kapal Jadi Admiral, karya Capitan Frederick Marryat. Dalam bayanganku, kau juga harus mengupas kentang dan membersihkan geladak kapal demi untuk keluar dari tempurung yang tak bisa membuatmu berkembang. Syukurlah, sekarang hidupmu baik di California. Bahasa Inggrismu pun pasti sudah cas cis cus. Meskipun begitu, ingatlah pesanku, jangan kau lupakan kami di sini, jangan pula kau lupakan gerak irama tortor kebanggaan leluhurmu.

Keberanian yang kau miliki juga kutemukan pada tiga orang pemuda yang kujumpai sore ini, Rofiq, Maulana, dan Dirin. Mereka berasal dari Banjarnegara, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Jawa sudah semakin padat, persaingan semakin ketat, hidup di sana semakin susah, itulah alasan mereka pergi merantau. Mereka berharap ada lowongan kerja apa saja di pulau Batam nanti. Tak banyak barang yang dibawa, Dirin hanya berbekal uang saku 300 ribu, 4 helai celana, 5 helai baju, dan sepasang sepatu. Sisanya, dia membawa tekad bulat.

Sayangnya tak ada toko yang menjual tekad bulat itu, sehingga tidak semua orang bisa memilikinya. Masih banyak orang yang ragu untuk melangkah, tak berani berubah karena khawatir akan menjadi lebih susah. Kebahagiaan memang hanya untuk mereka yang berani memperjuangkannya. Kau contohnya.

 

Salam dari tanah air,

 

 

Iwan

Nb. Sampai di Medan nanti aku harus segera berangkat ke Banda Aceh. Seandainya saja ada banyak waktu, pasti kujenguk ibumu di kampung halaman.