Saat Hongkong berdemo

Veve, sahabat kami yang tinggal di Hongkong menceritakan pengalamannya saat demonstrasi besar-besaran berlangsung di Hongkong baru-baru ini. Selamat mengikuti kisahnya…

Sampai hari ini, masih banyak jalan-jalan utama di Hong Kong yang ditutup dan tidak bisa dilalui kendaraan. Polisi memasang barikade untuk menghalangi demonstran masuk ke area yang mereka tuju yaitu “Central”.

Demonstran yang umumnya terdiri dari pelajar dan warga Hong Kong lainnya ini memang sudah merencanakan gerakan “Occupy Central”. Mereka ingin menduduki Central. Namanya juga Central, daerah ini merupakan pusat bisnis Hong Kong. Mungkin kalau di Jakarta, distrik ini mirip dengan daerah segitiga emas Sudirman, Thamrin, Kuningan. Tempat berkumpulnya kantor-kantor pusat dari perusahaan multinasional misalnya bank, kantor konsulat negara asing, dan juga kantor pemerintahan.

Dua minggu berlalu… Demonstrasi besar dan damai dimulai Minggu malam 28 September. Demonstran mulai menginap di titik-titik utama di Causeway Bay, Admiralty dan Mong Kok. Ngebayang jalanan utama depan Sogo di Causeway Bay yang super ramai dilalui kendaraan dan orang lalu lalang tiba-tiba penuh dengan para demonstran duduk-duduk! 1 Oktober yang merupakan target utama mereka pun berlalu. Hari itu adalah pengalihan kedaulatan Hong Kong dari Inggris ke Republik Rakyat Cina.

Demonstrasi damai karena memang secara garis besar berjalan aman terkendali. Para pelajar yang turut demo memang sedang tidak ada kegiatan sekolah alias libur. Mereka tetap disiplin, demo bukan untuk bersenang-senang, dilarang memasang musik atau sekedar bekeliaran. Ada pelajar yang bertugas membagikan air putih, ada yang tugas keliling membawa kantong plastik untuk tempat sampah, ada yang bagi-bagi plastik utk menutupi diri dari semprotan merica para petugas. Salah satu atribut demo mereka ada “goggle”. Mereka pakai kacamata renang yang besar seperti mau menyelam! Supaya nggak perih kalau kena semprotan merica.

 “disiplin pelajar selama demo” – kontribusi dari rekan fotografer Indonesia yang tinggal di Hong Kong – http://portfolio.andreas-images.com/

Kalau di TV terlihat ada yang dorong-dorongan atau berantem, ya memang terjadi di daerah demo. Dilaporkan kejadian berantem di Mong Kok. Kabarnya pemilik-pemilik toko di daerah tersebut terganggu dengan para demonstran. Toko mereka harus tutup dan tidak ada pembeli karena di depan toko mereka diduduki demonstran. Salah satu area turis di Mong Kok adalah Ladies Market. Bagi yang pernah ke Hong Kong pasti ingat pusat belanja ini.

Secara umum situasi dan kondisi terkendali sampai hari ini. Barikade yang dipasang polisi di Central tidak dilanggar. Kendaraan umum yang lewat tidak diganggu. Logistik dan distribusi makanan pokok tidak terganggu. Di daerah rumah penduduk tidak ada apa-apa seperti tidak ada demo sama sekali.

Efek samping demo pastinya ada. Transportasi umum di Hong Kong yang canggih dan terpercaya kena dampak. Kereta api bawah tanah atau MTR (Mass Transit Railway) makin padat. Karena banyak rute bis yang dialihkan karena jalanan yang ditutup. MTR selalu penuh apalagi kalau jam sibuk pagi dan sore. Selama demo berlangsung, jam berapapun MTR selalu padat. Harus rela nunggu gantian masuk dan keluar, dan rela berdesakan di dalam MTR.

Terharu juga kalau melihat warga senior yang paruh baya ikut ngantri dan berdesakan. Kalau sudah gitu, saya lebih ikhlas desak-desakan dan hilang sudahlah perasaan tidak suka.

Ferry antara pulau Hong Kong dan Kowloon pun juga ketambahan penumpang, karena biar bagaimana pun lebih cepat naik ferry daripada naik bis nyebrang pulau.

Di hari pertama setelah demo besar itu, saya lumayan bingung. Biasanya naik bis turun di halte besar di Central, karena jalanan Central ditutup, bis hanya sampai di Wan Chai yang kurang lebih masih 2 stasiun lagi kalau naik MTR. Jadi harus berhenti di Wan Chai, jalan kaki ke stasiun MTR dan sambung ke Central. Biasanya kalau naik bis hanya bayar HK$ 10,60 sampai Central, harus extra bayar MTR HK$ 5. Rute bis yang dipendekin kok nggak dikurangi ya? Curcol.

bis umum – foto kontribusi dari rekan fotografer Indonesia yang tinggal di Hong Kong – http://portfolio.andreas-images.com/

Saya pernah cek di website bis mengenai pergantian rute ini. Memang dijelaskan halte pindah ke jalan tertentu. Tapi saya yang dua tahun tinggal di Hong Kong juga belum hapal nama-nama jalan!

Turis pengguna bis umum pun juga kena dampak. Kalau terlihat turis asing yang tiba-tiba turun bis dan langsung lihat HP, pasti mereka lagi cek GPS cari jalan -J

Sewaktu saya celingukan cari halte bis no 40 di Causeway Bay yang dipindahkan, seorang bapak yang baik hati menunjukkan arah, “over there, Leighton Center.”

Transportasi publik lainnya yang kena dampak besar adalah tram. Karena tram beroperasi di jalan umum sama dengan kendaraan lain. Mereka berhenti operasi karena jalanan ditutup. Padahal naik tram ini seru, bentuknya unik dan biayanya murah hanya HK$ 2,3 dari ujung terminal sampai terminal terakhir!

Modal dengkul! Selama demo masih berlangsung identik dengan jalan kaki lebih banyak. Karena harus pintar-pintar cari alternatif terbaik supaya dapat kendaraan pulang ke rumah. Taxi agak terbatas karena peminatnya banyak, antri lebih lama, rute jalan terbatas karena jalanan ditutup dan jalanan lebih macet. Akibatnya ongkos taxi juga naik dari biasanya. Kendaraan pasti ada, MTR tetap beroperasi seperti biasa. Tapi karena peminatnya lebih banyak, harus rela berdiri antri lebih lama dan sabar. Artinya modal dengkul yang kuat.

 

Salam dari Hong Kong,

@ekrist