#8 Batavia-Rotterdam

 

 

(Surat Iwan untuk Michael Putrawenas, sahabat, mantan Ketua PPI Netherland, di Rotterdam, Belanda)

 

Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta 17 Juni 2011

 

Apa kabar Rotterdam di zomer ini?

Masih memakai jaket tebal atau sudah banyak orang berbikini di Scheveningen? Cuaca di bumi sekarang ini memang semakin sulit ditebak. Begitu pun di Jakarta, semakin tak jelas lagi batas antara musim hujan dan musim kemarau. Di negeri tropis ini hujan bisa turun sewaktu-waktu, tidak harus menunggu bulan September, Oktober, November, maupun Desember.

Apa kabar teman-teman PPI Rotterdam dan Den Haag? Sedang sibuk apa mereka sekarang? Kangen rasanya ketemu dan ngobrol dengan mereka. Selain itu aku juga rindu berkeliling kota dengan sepeda. Menggowes sepeda di sana memang nyaman, selain karena tersedianya jalur khusus, kondisi jalannya pun cenderung datar tanpa tanjakan dan turunan, selain itu udara sejuk juga tak membuat nafas ngos-ngosan dan tubuh berkeringat.

Masih ingatkah kau waktu kita mampir ke sebuah gudang tua di dekat Pelabuhan Rotterdam, tak jauh dari Erasmusbrug, sekitar setahun yang lalu? Aku masih ingat betul bangunan batu bata merah tua mirip gudang dengan jajaran empat pintu bertuliskan Sumatra, Java, Borneo, dan Celebes di dekat dermaga Wilhelmina. Apakah hari ini gudang tua itu masih berdiri dan tersisa, mengingat waktu kita datang ke sana sedang terjadi pembangunan dan renovasi di kawasan itu.

Aku ingat, sambil memotret kita pandangi bangunan tua itu, bayangan kita menerawang terbang, melawan waktu ke masa lalu. Kita pun bertanya-tanya, jika itu gudang, barang apa saja yang pernah mengisi ruang-ruangnya? Mungkinkah itu cengkeh, pala, lada, karet, damar, gambir, pinang, teh, kopi, tembakau, jagung, rotan, beras, atau gula, dan masih banyak lagi hasil bumi lain yang diangkut dari tanah air kita? Berapa kali sudah kapal-kapal pengangkut barang, yang mereka akui sebagai hasil dagang itu, hilir mudik arungi lautan antara Nusantara-Negeri Belanda?

Jika Rotterdam merupakan pelabuhan akhir tujuan perjalanan barang-barang tersebut, saat ini aku sedang berada di Tanjung Priok, Batavia, sekarang sudah ganti nama jadi Jakarta, salah satu pelabuhan tempat hasil bumi itu diberangkatkan . Jika sekarang penerbangan Jakarta-Amsterdam membutuhkan waktu sekitar 18 jam, di tahun 1920 perjalanan laut dari tempat ini ke Belanda membutuhkan tempo sekitar 30 hari. Omong-omong, kalau memikirkan panjangnya waktu tempuh kapal laut di abad ke 17 dan 18 yang berbulan-bulan itu, aku membayangkan, mungkin ada orang yang meninggal atau banyak anak yang dilahirkan di atas kapal, saking lamanya waktu yang harus ditempuh. Bukan main.

Dari beberapa buku sejarah Kota Batavia yang pernah kubaca, Tanjung Priok adalah pelabuhan yang dibangun pada tahun 1877, saat Johan Wilhem van Lansberge menjadi gubernur jenderalnya. Bukan hanya karena dibukanya Terusan Suez yang mampu mempercepat waktu tempuh pelayaran dari Eropa ke Asia, ditemukan dan mulai banyak digunakannya kapal-kapal besar bertenaga uap membuat peran pelabuhan ini makin penting keberadaannya. Tak heran bila Tanjung Priok kemudian menjelma menjadi salah satu tempat sandar kapal tersibuk di Asia.

Nanti, kalau pulang ke Jakarta, tengoklah Stasiun Kereta Api Tanjung Priok, sebuah stasiun yang amat mewah pada zamannya. Pembangunannya di era Gubernur Jenderal A.F.W Idenburg itu konon sempat dipertanyakan oleh pemerintah di Negeri Belanda, pembangunannya dianggap terlalu besar menelan biaya. Bayangkan saja, stasiun 8 peron ini dilengkapi dengan hotel, restoran, dan tempat dansa-dansi. Marmer dan keramik yang melapisi bangunannya pun didatangkan khusus dari Italia. Baru setelah mengetahui bahwa pelabuhan dan stasiun terpadu di Tanjung Priok merupakan saluran penting bagi lancar masuknya keuntungan luar biasa besar dari hasil bumi Nusantara ke Negeri Belanda, pembangunan stasiun itu akhirnya mendapat restu. Setelah 134 tahun berlalu, kondisi Tanjung Priok sekarang sudah sangat jauh berbeda. Bagaimana kira-kira keadaan di tempat ini di 134 tahun yang akan datang?

Sambil memandangi air laut yang coklat nyaris hitam, kuucapkan salam perpisahan pada Jakarta dan Pulau Jawa. KM KELUD yang kutumpangi mulai bergerak, perlahan meninggalkan pelabuhan menuju Belawan di Medan, Pulau Sumatera. Mengenang Batavia dan Rotterdam dari atas kapal membuatku teringat pada lagu Afscheid van Indie yang dinyanyikan Wieteke van Dort. Lagu yang mengisahkan perjalanan pulang orang-orang Belanda dengan kapal Willem Ruys, meninggalkan mooi Indie, bekas tanah jajahannya itu. Suaranya terngiang di telingaku…

 

Afscheid van Indie

Wat heeft het voor zin

Hoe moet het nu verder

Met ‘t land dat ik bemin

Dag baboe, dag djongos

Het ga jullie goed

Land van mijn droom

Ik ga omdat ik moet…

 

 

Iwan