Seandainya Saya Seorang Sunda.

Entah sedang berada di ketinggian berapa meter dari permukaan laut posisi saya saat menulis surat ini, yang pasti, di kaki Gunung Salak Bogor ini saya bisa melihat kota Jakarta dengan jelas, walau kecil. Udara dan langit sekarang sedang cukup ramah, pemandangan sekitar begitu jelas bisa saya nikmati, sederetan daun-daun pisang bergoyang ditiup angin, rimbun rumpun bambu bergerombol, pohon perdu di ladang, dan padi yang merunduk berwarna kuning yang seolah menari riang ditingkahi lamat-lamat suara degung dari sebuah acara resepsi pernikahan menambah tentram suasana hati.

Inilah tatar Sunda, tanah dengan limpahan karunia Tuhan dalam bentuk kesuburan tanahnya, elok alamnya, kaya budaya, dan keramahan penduduknya.

Ada yang menyebut tempat ini sebagai Pasundan, yang lain menamainya sebagai tanah Parahyangan maupun Priangan. Tanah yang, dalam garis hidup saya, harus saya datangi dan pernah tinggali hampir 30 tahun yang lalu.

1976

Ada beberapa hal yang sempat membuat saya “kaget” saat pertama kali datang menginjak kaki di kota Subang, di pertengahan tahun 1976, kota kecil yang letaknya hanya sekitar 15 Km dari lokasi serah terima dan berakhirnya kedaulatan dan penjajahan Belanda di Indonesia, lapangan terbang Kalijati.

Kota Subang kala itu adalah kota kecil yang beruntung karena sudah memiliki sambungan listrik dan instalasi telepon. Bukan, bukan karena kerja orde baru, saluran listrik dan telepon engkol ada di sana karena peninggalan sebuah perusahaan perkebunan teh milik Belanda yang terhampar sepanjang Subang, Ciater, Lembang, hingga Bandung.

Kehidupan di kota kecil itu sangat bisa disebut sebagai tenang, damai, sangat tenteram. Pekerjaan mayoritas penduduknya kala itu adalah petani, sebagian menjadi pedagang dan pegawai negeri. Di tempat yang pernah mendapat sebutan sebagai daerah lumbung padi nasional itu juga banyak ditemui pohon rosella yang merupakan bahan pembuat karung goni, begitu yang saya ingat. Saya agak kaget ketika mendapati kota itu jauh lebih kecil daripada Solo, kota asal saya.

Sebagai anak sekolah dasar pindahan dari Solo, saya makin terkejut dengan bahasa pergaulan di sekolah, bahasa sehari-hari, Bahasa Sunda. Kata seperti “gandeng” dan “cicing” membuat saya kehilangan orientasi, dua kata yang artinya, “Berisik” dan “diam” itu sempat saya salah artikan sebagai “berpegangan tangan” dan “kencing”. Gedang yang dalam bahasa Jawa artinya pisang, di sini berubah menjadi pepaya, Amis yang di Solo maksudnya anyir di sini berganti arti menjadi manis. Pendek kata, saya mengalami gegar budaya.

Adaptasi adalah satu-satunya cara untuk bisa survive dan menikmati hidup di sini, hari demi hari saya lalui dengan sebuah tatanan baru, tata cara hidup budaya Sunda. Saya percaya, selalu ada orang baik untuk bisa mendukung sebuah niat baik, orang itu adalah Uwa Kamar, kakak ipar bude saya, seorang lelaki menak, cucu dari seorang wadana di Sumedang kelahiran tahun 1927, seorang Sunda totok yang nama lengkapnya Raden Kamar. Dari beliau inilah saya melihat, mendengar, dan banyak belajar tentang tetek bengek budaya dan kehidupan orang Sunda.

Sambil mengisap daun kawungnya, Uwa Kamar banyak bercerita tentang Raden Dewi Sartika yang amat sangat peduli pada kemajuan kaum perempuan di Indonesia, tentang kecantikan dan keteguhan hati seorang Inggit Ganarsih, perempuan hebat inspirator Soekarno, tentang Ali Sadikin yang kala itu sedang jadi gubernur Daerah Chusus Ibukota Jakarta, Syafruddin Prawiranegara, Otto Iskandardinata sampai Iwa Kusumasumantri, politikus yang pernah jadi menteri pertahanan dan rektor universitas Pajajaran. Menceritakan tentang karya-karya Ajip Rosidi di bidang sastra, juga soal Ramadhan KH yang menulis sajak dan mengembara ke banyak negara di Eropa. Membanggakan Mochtar Kusumaatmadja, diplomat jagoan yang berhasil melahirkan konsep Wawasan Nusantara dan Zone Ekonomi Eksklusif yang amat penting bagi negara kita,

Di kesempatan lain, Uwa Kamar ini juga paling suka menceritakan tentang asal-usul nama Siliwangi, mulai dari yang zaman baheula, sampai ke soal divisi Siliwangi, kesatuan tentara yang sangat dibanggakannya. Cerita tentang bagaimana bisa terjadi peristiwa bumi hangus Bandung lautan api, lengkap dengan patriotisme Muhamad Toha di dalamnya. Sambil bercerita, tangannya memperagakan orang yang sedang menarik pelatuk senapan atau melakukan gerakan berlari sambil melempar granat. Uwa Kamar itu bisa bercerita sangat serius tapi juga bisa ngabodor atau melucu di waktu yang berbeda.

Referensi saya terus terisi oleh budaya Sunda, makin terbiasa dengan entakan gendang jaipong, alunan suling, sesekali belajar angklung, dan selalu berdiri paling depan saat melihat atraksi sisingaan yang ditunggangi anak yang akan dikhitan, di Subang saat libur sekolah hampir setiap hari saya bisa melihat arak-arakan sisingaan.

Suplai informasi lain banyak saya dapatkan dari majalah Mangle, senang bukan kepalang saat membaca rubrik Pangalaman para mitra, masih ingat juga saya pada kalimat Sukaning indriya, gapuraning rahayu. Kalimat berbahasa Sunda yang tak mungkin hilang dari kepala saya adalah peribahasa Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok, falsafah yang amat sangat tinggi nilainya.

Minggu, bulan, hingga tahun terus berganti, saya bukan hanya semakin lancar berbahasa Sunda, mulai bisa hapal nama anak setiap binatang, begitu banyak kosa kata pengganti “jatuh” dalam bahasa Sunda, mulai dari labuh, tisoledat, rag-rag hingga ngagubrag. Lidah pun sudah makin lincah melafalkan kata euy, peuyeum, ciumbeuleuit, heunteu, dikeueum, dibeuleum, beureum dan banyak kata lain yang bagi orang non Sunda agak bikin lidah dan bibir melintir.

Soal makanan, selain pais, leupeut, comro, misro, odading, dan ranginang, saya juga sudah makin terbiasa melahap dedaunan seperti kebanyakan orang Sunda, Daun pepaya, roay, genjer, kemangi, pohpohan, gandaria, jambu bol, kangkung, kenikir, puring, serawung adalah lalab yang kemudian menjadi santapan saya.

Bicara kuping, mau tidak mau, saya juga jadi suka sama Hetty Koes Endang, lagu-lagunya terasa ngeunaheun. Saat lagunya diputar, saya biasanya ikut menyanyikannya dengan keras. (Teman-teman yang tahu bahwa saya sesungguhnya bukan orang Sunda seringnya geleng-geleng kepala sambil menertawakan).

Hal lain yang juga masih saya ingat adalah istilah “Jawa Kowek”. Beberapa teman memberi tahu kalau kalimat itu adalah ledekan terhadap orang Jawa. Tapi terus terang saya sulit untuk tersinggung, bukan karena apa-apa, saya tak mengerti arti ledekan itu. “Jawa Kowek!”, kenapa harus tersinggung? Lama kelamaan kalimat itu tak pernah saya dengar lagi dari teman-teman. Mungkin saya dianggap sudah mulai menyelami dan menjiwai budaya Sunda

1981

Lima tahun bukan waktu sebentar, saya hidup dalam buaian hangat dan balutan pekat budaya baru yang begitu nikmat rasanya. Saat harus pindah ke Jakarta, saya menangis, tangis itu bukan hanya karena saya harus berpisah dari kawan-kawan bermain, tapi karena mendengar lagu Pileleuyan ;

Hayu batur – hayu batur

Urang kumpul sararea

Hayu batur – hayu batur

Urang sosonoan heula

 

Pileuleuyan – pileuleuyan

Sapu nyere pegat simpay

Pileuleuyan-pileuleuyan

Paturay pateupang deui

 

Amit mundur-amit mundur

Amit ka jalma nurea…

Saya faham betul isi lagu itu, sebuah lagu perpisahan yang dalam sekali maknanya. Seorang teman mendekati saya, dan bertanya, “Kunaon ceurik?” Saya nggak bisa ngomong apa-apa, air mata saya jatuh, hati saya berdegup keras, mendapati kenyataan saya harus pergi meninggalkan tanah Pasundan yang baru saja saya mulai cintai.

 

2014

Lama sekali rasa rindu pada Sunda saya tekan, kalau pun pergi ke Bandung, Bogor, Subang, Serang, Tasikmalaya, Ciamis, Garut, Purwakarta, Pandeglang, Singaparna, Cianjur yang saya bawa cuma raga, hanya melihat pemandangan alam, mencari makanan kesukaan, mendengar musik enak, begitu nyaris selalu.

Rindu itu akhirnya memuncak dan meledak. Pemicu ledakan rindu pada tanah Sunda itu bukanlah karena mojang Priangan geulis muda yang bisa kita jumpai di banyak kota Jawa Barat, penyebabnya justru adalah karena seorang nenek 79 tahun. Ceu Popong namanya. Popong Otje Djundjunan lengkapnya.

Bukan cuma saya, pasti banyak juga orang yang melihat nenek itu memimpin sidang pertama DPR periode 2014-2019 kemarin. Dalam kondisi persidangan yang kacau balau Ceu Popong mampu mengendalikan kondisi, walau sempat dikerjain dengan hilangnya palu sidang, dia tetap tenang, “Paluna euweuh”, ucapnya dalam bahasa ibunya, bahasa Sunda.

Melihat kehadiran dan mendengar kalimat pendek Ceu Popong, “Paluna Euweuh” sontak membuat syaraf saya berkontraksi, perempuan tua itu seolah meniupkan terompet, membangunkan orang-orang muda dan menyampaikan pesan, kita tak boleh menunggu. Inilah saatnya orang-orang muda tampil memimpin, menjaga, dan meneruskan cita-cita pendahulunya.

Seandainya saya seorang Sunda, tampilnya Ceu Popong dalam bahasa Sunda dan menjadi trending topic di twitter itu seperti air es yang tercurah pada wajah dan sekujur tubuh saya, membangunkan dan mengingatkan kehebatan Sunda yang sekarang seperti sedang meredup, bagai pelita yang sedang mengecil cahayanya, sudah lama terdiam, tertunduk lesu di bawah rak buku sejarah yang mencatat dan menggambarkan banyak kehebatan leluhur di masa silam.

Seandainya saya seorang Sunda, saya akan arak Ceu Popong keliling provinsi, saya akan minta Ceu Popong untuk mengingatkan rakyat Jawa Barat dan orang Sunda pada khususnya, inilah saatnya mengembalikan kejayaan dan kemulyaan tanah pusaka. Cahaya Sunda yang terang menyala, Kahadean Sunda nu kakoncara.

Dalam arak-arakkan itu saya membayangkan terpasang banyak umbul-umbul dan spanduk sepanjang jalan, salah satunya bertuliskan; “Urang Sunda teu meunang gandeng, urang Sunda teu meunang cicing”.

Gemah ripah repeh rapih

 

Tah…!

 

Gunung Bunder, Bogor, 8 Oktober 2014

 

Iwan Esjepe

 

Catatan :

Surat ini saya buat untuk Almarhum Raden Kamar yang wafat di Subang, November 1986. Terima kasih sudah mengenalkan saya pada budaya Sunda, budaya yang sekarang mungkin sudah menjadi bagian dari jiwa dan darah saya juga.