#5 Dua Pelaut

 

(Surat untuk Teguh Handoko, sahabat, CEO Ideasphere, di Jakarta)

 

Kemang, 15 Juni 2011

 

Indah sudah mengumpulkan banyak informasi yang menyangkut rencana perjalanan nanti, termasuk jadwal kapal PELNI untuk pelayaran ke Medan dan ke Merauke. Ya, ke Medan, karena tak ada kapal yang berangkat dari Jakarta langsung menuju ke Sabang. Kapal untuk ke Merauke pun tak berangkat dari Jakarta, melainkan dari Tanjung Perak di Surabaya. Pemesanan tiket kapal laut baru bisa dilakukan sekitar dua minggu sebelum keberangkatan. Banyak hal yang mempengaruhi, antara lain jadwal kedatangan dan keberangkatan kapal yang sangat bergantung pada baik-buruknya cuaca dan kondisi kapal itu sendiri.

Menjawab pertanyaanmu soal dari mana munculnya ide untuk melakukan perjalanan dengan kapal laut ini, terus terang awalnya adalah dari sebuah buku lama yang diterbitkan ulang oleh KOMPAS, Dewa Ruci, Pelayaran Pertama Menaklukan Tujuh Samudera. Buku yang pertama kali terbit 46 tahun lalu itu ditulis oleh Cornelis Kowaas, salah seorang awak KRI DEWA RUCI yang menceritakan perjalanan gagah para pelaut Indonesia melintasi tujuh samudera. Dulu, buku itu berjudul Dewa Rutji. Sang Saka Melanglang Jagad.

Banyak kisah menarik seputar buku ini. Terbit 15 Januari 1965, tepat di Hari Dharma Samudera, hari yang merupakan peringatan gugurnya Laksamana Yos Sudarso di Laut Arafura, Presiden Soekarno juga turut memberikan kata sambutan pada buku bacaan umum setebal 312 halaman itu. Ibu Artati Soedirdjo, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di masa itu, menetapkan buku Dewa Rutji, Sang Saka Melanglang Jagad sebagai buku bacaan SLTP dan SLTA dengan maksud menumbuhkan rasa bangga dan cinta pemuda pada tanah airnya terutama pada dunia maritim. Buku yang sempat dicetak ulang beberapa kali ini kemudian mendadak hilang dari toko-toko buku di seluruh Indonesia, beberapa persediaan buku yang masih tersisa di Perpustakaan Pusat Penerangan Angkatan Laut pun atas “instruksi tak tertulis” dari penguasa baru telah diperintahkan untuk dibakar/dimusnahkan tanpa jelas alasannya. Itu yang kubaca dalam kata pengantarnya.

Dalam bukunya, Cornelis Kowaas dengan sangat menarik menceritakan sebuah kisah nyata, kehebatan pelaut Indonesia yang mengarungi lautan untuk mengunjungi banyak negara. L.N.Palar, Duta Besar Indonesia untuk PBB periode 1947-1950, menulis, “Kunjungan KRI Dewa Ruci di New York ini menyamai usaha diplomasi selama 10 tahun terakhir yang kami lakukan”.

Takjub akan cerita yang kami baca dari buku itu, aku dan Indah penasaran untuk bisa menemui penulisnya. Pencarian kami membuahkan hasil, melalui seorang teman kami memperoleh nomor telepon beliau. Dalam pembicaraan melalui telepon kami berjanji untuk bertemu di Manado. Tapi kemudian rencana itu urung, karena Pak Cornelis Kowaas akan pergi ke Jakarta untuk menjenguk anak-cucunya. Pemuda yang saat menulis buku itu masih berusia 32 tahun sekarang sudah berumur 79 tahun dan jadi seorang kakek yang bahagia dengan 9 orang cucu. Suami dari Margaretha Kowaas-Pangkey ini sekarang menetap di kota kelahirannya, Amurang, Sulawesi Utara.

Cerita berlanjut, pertemuan dengan Cornelis Kowaas kemudian membawa kami berjumpa dengan seorang pelaut hebat lain. Dia adalah Kapten Gita Ardjakusuma, nakhoda kapal Phinisi Nusantara yang selama 69 hari telah berhasil membawa perahu kayu tradisional masyarakat Bulukumba yang terkenal itu berlayar dari Pelabuhan Muara Baru di Jakarta menuju Marine Plaza di Vancouver, Kanada, di tahun 1986. Sungguh sebuah perjalanan yang spektakuler melintasi Samudera Pasifik yang ganas dan penuh bahaya.

Mendengar cerita Kapten Gita Ardjakusuma pada pertemuan kami di Cilandak Town Square membuat kami semakin penasaran pada sebuah petualangan laut. Seperti apakah rasanya berlayar selama berminggu-minggu, mengarungi air asin yang begitu luas, terutama di tengah guncangan ombak yang tak hentinya mendera dan menerpa? Rasanya sudah bulat tekad kami untuk bisa mewujudkan “petualangan” laut versi kami sendiri.

Selain kami bertiga, peserta perjalanan nanti akan bertambah satu orang. Indah mengajak sahabatnya, Decyca, untuk ikut serta. Dia beruntung, seperti aku, bisa mendapat ijin cuti sebulan penuh dari kantor tempatnya bekerja.

Salam untuk Liza, Tevka, Naevan, dan Gibral di rumah.

 

Iwan