#4 Nazar

 

(Surat Indah untuk Mama Titin dan Papa Bir, orang tua, di Jakarta)

 

Bintaro, 10 Juni 2011

 

Semalam kami baru saja menghadiri acara lulus-lulusan sekolahnya Ikyu. Seperti baru kemarin saja rasanya mengantar dia di hari pertama masuk sekolah, waktu masuk pre-school di JIMS, saat usianya baru 3 tahun. Sekarang, tiba-tiba saja dia sudah berumur 11 tahun, sudah lulus SD dari MISB. Begitu cepat rasanya waktu berlalu.

Ikyu, cucu perempuan pertama Mama dan Papa, sekarang sudah tumbuh menjadi seorang remaja putri. Tingginya sudah hampir menyusul aku, ibunya. Bahkan ukuran sepatu kami sekarang sudah sama, mungkin sebentar lagi kakinya juga akan lebih panjang dari kakiku.

Mama dan Papa tahu, betapa besar harapan aku dan mas Iwan terhadap anak semata wayang kami itu. Salah satu harapan kami adalah supaya Ikyu memiliki rasa bangga dan cinta pada tanah airnya. Kami berusaha sebisa mungkin agar Ikyu bisa menyaksikan banyak hal, melihat dunia lain di luar lingkungan tempat tinggalnya, entah jauh ke mancanegara maupun sekedar ke sebuah desa terpencil di Jawa Barat. Aku selalu ingat kata-kata Papa, bahwa pengalaman adalah ilmu yang mahal dan berharga. Itulah sebabnya dulu aku dan adik-adik sering diajak bepergian, mendatangi tempat-tempat baru dan mengenal budaya lain, semua itu dalam rangka menambah pengalaman dan pengetahuan kami.

Mama dan Papa tentu sudah paham betul bagaimana kami lebih memilih menggunakan uang tabungan untuk bepergian, bukan? Rumah yang sudah kami tempati selama hampir sepuluh tahun ini belum mengalami perubahan yang berarti. Hanya tembok dan pagar yang beberapa kali kami cat ulang serta rak-rak yang kian memenuhi rumah untuk menampung buku-buku yang hampir setiap bulan bertambah jumlahnya. Bukannya kami tak ingin punya rumah besar dan halaman luas, masalahnya saat ini kami masih harus memilih salah satu, antara bepergian atau memperbesar rumah. Melihat sisi lain dunia yang begini luas sangat menarik hati, jadi sepertinya untuk saat ini jalan-jalan masih menjadi prioritas kami.

Mama dan Papa tercinta, sebentar lagi Ikyu berusia 12 tahun, sudah teenager. Kami punya nazar, jika Ia lulus SD kami akan mengajaknya keliling Indonesia. Di liburan sekolah tahun ini, kami punya rencana untuk pergi ke dua kota, Sabang dan Merauke. Kami ingin Ikyu melihat dan mengalami sendiri betapa luas dan kaya negerinya, bukan hanya dari buku ataupun tontonan di televisi saja. Tidak cuma Bali, Lombok, dan Yogyakarta, dia juga perlu melihat Bau bau, Ambon, Banda Naira, Saumlaki, Tual, Dobo, dan tempat lain yang belum menjadi destinasi liburan orang Indonesia.

O ya, kalau Mama ada waktu, tolong buatkan kami sambal goreng dan teri balado untuk bekal di jalan nanti, ya. Kudengar dari teman-teman yang sudah biasa naik kapal laut makanan di kapal kurang bervariasi, aku khawatir Ikyu akan bosan dan tidak nafsu makan. Selain untuk alternatif menu, makanan itu juga bisa menjadi obat penawar rindu pada Mama dan Papa di rumah. Doa kalian berdua selalu kami harapkan.

 

Wassalam,

Indah