Ilustrasi perebut hati

(Bukan soal politik, ini kajian komunikasi sederhana)

Pemilu sudah selesai, presiden sudah terpilih.

Dalam beberapa bulan terakhir, nyaris setiap hari kita melihat, mendengar, dan menyimak begitu banyak pesan kampanye politik dari pihak-pihak yang sedang berkompetisi. Mulai dari yang sopan, yang setengah sopan, hingga yang kasar dan cenderung fitnah alias kampanye hitam. (Setiap kubu memilikinya, dan melakukannya)

Ajang Pemilihan Umum mau tidak mau memaksa para kontestan untuk memiliki amunisi komunikasi yang ampuh guna merayu, memberi penjelasan, dan meyakinkan masyarakat pada kandidat tertentu.

Penulis, pelukis, musisi, desainer, banyak pelaku seni ahli komunikasi yang juga terlibat dalam kegiatan kampanye ini, ada yang dibayar, tapi tak sedikit pula yang melakukan dengan suka rela. Semua memeras otak dan bermandikan keringat untuk membuat sebuah kampanye yang hebat dan berdampak.

Sejak awal kampanye kami sekeluarga sepakat untuk menempati posisi netral dalam kampanye pemilihan legislatif maupun presiden kemarin. Posisi itu membuat kami lebih santai dan tak terlalu mudah terbawa emosi karena sentimen atau terlalu cinta pada kontestan yang sedang berlomba.

Dari begitu banyak materi kampanye, perhatian kami sangat terebut oleh visual kampanye yang dibuat oleh Hari Prast dan Yoga Adhitrisna. Walau tidak bisa dibilang orisinil, karena banyak mendapat pengaruh dari gaya gambar Herge, karya mereka ini jadi terasa unik di tengah-tengah arus kampanye kebanyakan yang cenderung datar, mau pun yang kasar menjurus brutal.

Gambar ala Tintin ini terasa sangat menyegarkan mata, tanpa perlu nyinyir dan menjelekkan lawan, warna-warna cerahnya memberikan kesan positif, santai, dan terasa menyenangkan.

Gambaran akan kehadiran tokoh jagoan di berbagai tempat di Indonesia sepertinya makin memberi kesan dekat pada warga yang berasal dari tempat yang digambarkan.

Ketika foto semakin rawan dengan akal-akalan digital imaging, ilustrasi seperti ini justru jadi pembawa pesan yang disukai.

Kami merasa gembira ketika akhirnya materi kampanye itu dibukukan seperti ini. Sebuah catatan sejarah, bukti keterlibatan seniman dalam kampanye sangat tak bisa disepelekan.

Penulis/pelukis/illustrator/musisi/desainer/semua pekerja seni, tahu pasti bagaimana cara merebut hati.

Salut dan terus berkarya untuk Hari dan Yoga!

 

Salam,