Tujuh dari “Yang ketu7uh”

Bukannya tak ada, tapi Film dokumenter masuk bioskop itu termasuk langka. Yang ketu7uh, itulah film yang kami tonton di 21 Plaza Senayan hari Minggu kemarin. Bareng dengan teman-teman, Michael Putrawenas, Hellena, Regi, Syaltout dan Sheika Rauf (dan si kecil Zola), serta teman-teman baru kami, Nanda, Dita, Ara, dan Mila.

Kalau ditanya tentang film Yang ketu7uh itu, saya punya pendapat yang jumlahnya juga ada tujuh;

1. Film karya Rumah Produksi WatchdoC ini mencatat perjalanan sebuah negeri berpenduduk lebih dari 240 juta jiwa saat mencari dan memilih presidennya yang ke 7.

2. Film berdurasi sekitar 80 menit ini menggambarkan berbagai sisi kehidupan rakyat yang sangat mendambakan kesejahteraan, baik bagi dirinya maupun negerinya.

3. Film yang pertama kali diputar di Fatahillah Square, Kota Tua Jakarta,Sabtu, 16 Agustus 2014 ini menceritakan kreativitas/kerja keras rakyat dalam mengatasi persoalan hidup yang dihadapinya.

4. Film yang disutradarai Dandhy Dwi Laksono dan co-sutradara Hellena Souisa ini memperlihatkan optimisme rakyat yang tengah menantikan pemimpin baru, siapa pun yang akan terpilih nantinya.

5. Film yang dikerjakan oleh 19 videografer ini menghadirkan fakta bahwa proses pendidikan politik sedang berjalan di berbagai lapisan masyarakat.

 

6. Film yang oleh The Wall Street Journal disebut sebaga Documentary Depicts hopes for Indonesia’s next president ini menyodorkan fakta bahwa sebetulnya kedewasaan berpolitik itu tidak selalu dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan ekonomi.

7. Film bergenre dokumenter ini menampilkan sebuah dinamika politik yang pernah terjadi di Indonesia, tanpa amarah, tanpa darah.

Usai nonton hati saya merasa lega, film ini mampu merekam sejarah tanpa harus  menampilkan keberpihakan. Jika pun ada kemenangan, semoga kemenangan itulah yang akan mensejahterakan rakyat Indonesia.

Saat ini, film Yang ketu7uh sedang diputar di beberapa bioskop di Jakarta, Solo, dan Surabaya.

Sempatkan menonton…

Salam