Ulah Pandji Pragiwaksono di Brisbane

Surat ini dikirim oleh adik kami, Indri Holmqvist (foto ke-4, berbaju merah), dari Brisbane, Autralia, yang bercerita tentang pengalamannya menonton Pandji Pragiwaksono ber-stand-up comedy di sana. Bagaimana kesan Indri yang “kuper” dan “kupeng” itu tentang acara tersebut? Silakan disimak :)

 

Brisbane, 30 Agustus 2014

Sabtu, 23 Agustus lalu, saya dan teman ibu-ibu di Brisbane mengahadiri acara Pojok Lawak Mesakke Bangsaku world tour yangg digelar di salah satu gedung tertua di Australia, Princess Theatre Woolloongaba.

Jujur, saya tidak tahu menahu tentang Pandji Pragiwaksono sang stand-up comedian yg akan perform malam itu. Saya cuma ikut-ikutan para ibu lainnya yang memang sudah memiliki tiket. Karena penasaran dan kebetulan sedang ada waktu, jadilah saya memesan tiket VIP untuk saya dan seorang teman, Ibu Diana, sehari sebelum acara berlangsung.

Setibanya di lokasi acara kami disambut oleh sapaan dan senyum ramah dari adik-adik mahasiswa Indonesia yang mengorganisir acara tersebut. Acara dimulai tepat waktu, pukul 6 sore, dibuka oleh penampilan Gilang Bhaskara selama kurang lebih 15 menit yang cukup membuat kami terbahak, what a talented young man!
Penampilan Gilang malam itu membuat saya berpikir, “kalau yang pembukanya saja sudah lucu begini gimana  pelaku utamanya ya?”.  Jadi semakin penasaran saya dengan si Pandji ini.

Sekitar pukul  7 malam sosok berpakaian jas lengkap dan sepatu kulit formil memasuki panggung, itulah Pandji yg terlihat santai dan smart in his outfit. Selama 2 jam iya mengocok perut kami habis-habisan, sampai sakit perut ini rasanya. Cerita-cerita lucu yg dituturkan Pandji adalah cerita sehari-hari dan sederhana yang sangat lekat dengan tradisi, budaya, dan tingkah laku kita sebagai bangsa Indonesia yang beragam.

Kami yang berbeda latar belakang, berbeda agama, berbeda umur, berbeda kedudukan, berbeda status, berbeda cara berpakaian, berbeda jenis kelamin, berbeda profesi, berbeda pandangan politik, berbeda tujuan hidup pada malam itu tertawa terbahak-bahak bersama menertawakan keberagaman kami. It was a beautiful night to remember!

Kehadiran Pandji di malam itu berbekas sekali di hati saya, selain menghibur, ia mengobati kerinduan akan tanah air sekaligus memberi rasa hangatnya kebersamaan. Saya berharap semoga kehangatan itu terus tumbuh dan berkembang di hati kita, bangsa Indonesia, di mana pun berada.

Bagi kami yang harus tinggal jauh dari Tanah Air, keluarga, dan sahabat membuat kami selalu ingin berkumpul bersama warga Indonesia lainnya. Mulai dari acara ngopi hingga Pesta Rakyat tanpa melihat perbedaan kami. Kami menghargai setiap momen kebersamaan dan hal-hal kecil yang berbau Indonesia. Menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam sebuah upacara bendera dapat membuat kami berlinang air mata karena terharu. Ketika ada yang memasak sop buntut, bubur ayam, pempek, atau balado paru tanpa ragu selalu mengundang teman-teman dekat untuk menikmati hidangan nusantara bersama-sama. Tawa kami bersama Pandji malam itu pun tanpa ragu telah menyatukan kami.

Terima kasih Pandji telah menyatukan kami dalam tawa!

Kini saya mengenal dan kagum akan sosok dan karyamu. Teruslah berjuang untuk kebersamaan!

 

Wassalam,

Indri Holmqvist