Alinea Pertama Iksaka Banu

Lama sudah malang melintang di dunia periklanan Indonesia, teman saya Iksaka Banu melanjutkan hobinya menulis cerpen, dan membukukannya. Semua Untuk Hindia. Selain merupakan aktualisasinya sebagai penulis, buku ini sekaligus sebagai pembayar lunas hutang pada ayahnya, Almarhum Dr. R.I. Suhartin Tjitrobroto dan tanda cinta pada ibundanya, almarhumah Theresia Oerganiati.

Buat Anda yang malas baca buku sejarah tapi penasaran dengan setting dan keseharian masyarakat masa kolonial Belanda, buku ini secara apik menyajikannya dalam 13 cerita pendek yang ditulisnya.

Alur dan variasi ceritanya sangat menarik, seru dan beragam, Berikut ini adalah penggalan alinea pertama dari sebagian cerpen yang terdapat di dalam buku Semua untuk Hindia:

Selamat Tinggal Hindia (Halaman 1)

CHEVROLET TUA YANG kutumpangi semakin melambat, sebelum akhirnya berhenti di muka barikade bambu yang dipasang melintang di ujung jalan Noordwijk. Sebentar kemudian, seperti sebuah mimpi buruk, dari sebelah kiri bangunan muncul beberapa pria berambut panjang dengan ikat kepala merah putih dan aneka seragam lusuh menodongkan senapan…

(Alinea selanjutnya bisa dibaca di buku Semua Untuk Hindia)

 

Stambul Dua Pedang (Halaman 13)

PUKUL ENAM PETANG. Hujan belum sepenuhnya berhenti. Di sekeliling rumah, suara air dari teritisan yang terempas di atas hamparan kerikil seolah melengkapi pentas orkes senja hasil kerja sama serombongan katak, cengkerik, dan burung malam. Tetapi sungguh, sajauh ini tak ada kejernihan artikulasi setara suara tokek yang bertengger di salah satu dahan pohon jati di kebun depan. Satu tarikan panjang berupa ketukan, disusul empat ledakan pendek. Keras. Tegas. Dilantunkan beberapa kali dalam irama yang terjaga. Kurasa malam ini dialah sang penguasa panggung…

(Alinea selanjutnya bisa dibaca di buku Semua Untuk Hindia)

 

Keringat dan Susu (Halaman 25)

LETNAN PIETER VERDRAGEN, Sir!” sebuah seruan membuatku menunda menyalakan rokok. “Pesan radio dari Bravo!”  “Godverdomme. Sampai mana mereka Rufus?” kutatap kopral tambun di seberang meja yang tampak sibuk dengan radionya. “Seharusnya mereka sudah di sini, setengah jam yang lalu.” “Masih di sekitar Meester Cornelis,” sahut Rufus. “Pecah ban.”

(Alinea selanjutnya bisa dibaca di buku Semua Untuk Hindia)

 

Gudang Nomor 12 B (Halaman 49)

MESKI TERPENCIL, GUDANG abu-abu ini serupa dengan lusinan gudang lain di sekitar stasiun. Beratap seng, dengan pintu geser dua kali tinggi orang dewasa. Sebetulnya nomor urutnya 013, namun mengikuti petunjuk para tetua Belanda, diganti menjadi 12 B…

(Alinea selanjutnya bisa dibaca di buku Semua Untuk Hindia)

 

Bintang Jatuh (Halaman 104)

DINI HARI. SISA ketegangan masih melekat di setiap sudut benteng, menghadirkan rasa sesak yang menekan dari segala arah. Sesekali aroma busuk air Kali Besar tercium, bergantian dengan bau barang terbakar. Ingin sekali aku berendam telanjang di dalam bak mandi setelah enam jam berteriak memberi komando serta melepaskan tembakan…

(Alinea selanjutnya bisa dibaca di buku Semua Untuk Hindia)

Buku Iksaka Banu adalah mesin waktu yang bisa melontarkan kita ke masa lalu, masa dimana nenek-kakek dan leluhur kita pernah hidup. Bukan hanya tentang peperangan tapi juga tentang cinta dan romantisme yang menyertainya.

Buku ringan tapi bernilai ini bisa didapatkan di toko buku Gramedia.

Selamat membaca.

 

Salam,