“Never miss a good chance to shut up”.

Ternyata betul, adakalanya memang kami harus diam. Diam atau bicara itu mirip dengan pilihan duduk atau berdiri. Ketika kecil kami diajari untuk bicara, ketika dewasa mungkin kami juga perlu belajar untuk mengerem bicara, ngomong seperlunya, tidak asal nyerocos mentang-mentang sudah bisa bicara.

Konon, kesadaran untuk memilih kapan perlu bicara dan kapan harus diam menunjukkan tingkat kedewasaan seseorang, Bagi sebagian orang diam sering dianggap sebagai sikap yang mengambang, tidak ke kiri, tidak juga ke kanan, bukan ke depan, tapi juga bukan ke belakang, tidak ke atas, tapi juga bukan ke bawah.

Diam tak jarang dianggap sebagai posisi netral alias cari aman. Tapi, ketika begitu banyak orang bergerombol di dua sisi dengan amarah dan sumpah serapah, posisi diam di tengah menjadi tempat yang tepat untuk merenung dan melihat lebih jernih tanpa harus terhalang oleh prasangka dan curiga.

Posisi diam memungkinkan kami untuk lebih serius menyimak, saat melihat ke dua kelompok baku tuding dan saling hina semaunya.

Posisi diam adalah posisi awal sebelum kemudian kami menentukan keputusan kemana langkah akan menuju. Posisi diam itu seperti kondisi warna abu-abu, yang bisa menjadi putih atau malah memekat menjadi hitam sesuai pemikiran.

“Never miss a good chance to shut up”, adalah petuah komedian Will Rogers yang kami amini.

Kami sangat takut tak punya waktu untuk berpikir karena sudah keburu habis kami pakai untuk bicara…

 

Salam,