Mengapa Harus ke Filipina?

Jalan Tuhan sering kali tak pernah kita bayangkan. Filipina bukanlah negara prioritas yang ingin kami kunjungi di tahun ini. Laos, Kamboja, Myanmar, dan Vietnamlah yang sudah masuk dalam daftar rencana kami. Kunjungan kami ke negerinya Pacquaio itu justru disebabkan oleh topan Haiyan. Angin besar mematikan itulah yang “membawa” kami datang ke Filipina, mengantarkan uang bantuan dari teman-teman di Indonesia.

Atas koneksi kami dengan Algooth, terjalinlah hubungan dengan teman-teman wartawan PECOJON (Peace and conflict journalist network) di Filipina, Ledrolen Manriquez, Charlie Secada Pix, Joy Cherry Quito, dan Jamie Cadapan Loplop, merekalah yang menemani kami selama berada di negara yang pernah diperintah oleh Ferdinand Marcos dari tahun 1965 hingga 1987 itu. Akhir Mei lalu kami berkunjung ke Manila, Cebu dan melihat langsung puing-puing yang tersisa dari amukan Haiyan di pulau Tacloban.

Tak ada maskapai penerbangan kita yang punya trayek langsung ke Tacloban, setelah mencari-cari dan berdiskusi dengan teman-teman Filipino, kami memutuskan untuk menggunakan pesawat Cebu Pacific, jalur yang kami ambil adalah Jakarta-Manila-Cebu-Tacloban.

Sempat transit beberapa jam di Ninoy Aquino International Airport (NAIA) membuat kami bisa slonjoran dan menikmati sarapan pagi. Perlu waktu sekitar 1 jam untuk bisa sampai di Cebu. Matahari di Cebu sama benderang dan kejamnya dengan matahari Jakarta, panas terik siang bolong menyambut kedatangan kami di Balinya Filipina itu. Untungnya kami disambut oleh dua pinay cantik; Joy dan Jamie.

Dengan senang hati mereka menemani kami berkeliling Cebu, mulai dari keluar-masuk pasar tradisional, gereja, museum sampai menikmati “sinar matahari di malam hari”, San Miguel Light. Kami juga dapat teman baru, Karlon N. Rama namanya, dia sempat beberapa kali datang ke Indonesia, menguasai beberapa kata dalam bahasa Indonesia dan selalu ingin datang lagi ke Indonesia. Jogya adalah kota yang selalu dirindukannya.

Dari Mactan Cebu International Airport menuju Daniel Z. Romualdez Airport di Tacloban cuma perlu waktu sekitar 45 menit. Di daerah korban paling dahsyat yang tertimpa topan Haiyan ini kami dijemput oleh seorang wartawati Radio Abante, Jazmin Bonifacio dan Kuya Alex. Kami melihat masih banyak sisa-sisa kerusakan yang terjadi, mulai dari bandara, rumah, higga kuburan-kuburan massal di depan beberapa gereja.

 

Seorang teman bertanya, mengapa harus ke Filipina? Bukankah di negeri kita  juga masih banyak bencana serta kerusakan yang harus dibantu dan diperbaiki. Kemanusiaan tak mengenal batas negara, saat Nangroe Aceh Darussalam dihajar tsunami tahun 2004 banyak negara lain juga turut membantu, Filipina salah satunya.

Hubungan baik dua negara bisa terjalin tanpa harus dilakukan oleh negara, semua orang bisa saling membantu, semua orang pada dasarnya adalah manusia yang bisa saling mengasihi.

Mahal ng Indonesia ang Pilipinas, Ikinalulungkot ng mga Indonesian ang kalamidad na nangyari sa Pilipinas, Rakyat Indonesia turut prihatin atas bencana yang menimpa Filipina.

Sekali lagi terima kasih untuk semua teman yang sudah turut berpartisipasi dalam penggalangan bantuan ini. Semoga Tuhan membalas semua budi baik Anda semua itu.

 

Salam,