Secangkir Flowery Java

Dua hari yang lalu, keluarga kami mendapat kiriman beberapa boks teh celup dari famili di Belanda. Pagi ini kami baru sempat membuka dan mencoba menikmatinya.

Saya sempat bingung kecil saat harus memilih boks mana yang harus dibuka lebih dulu. Ada boks teh yang menawarkan rasa buah-buahan hutan, Rooibos, Slaap lekker (tidur enak), Lemon Pie, Kaneel Cinnamon, Earl Grey, dan ada dua lainnya yang membuat kami tersenyum, Flawery Java dan Golden Batavia.

Tertulis dalam boks Flovery Java: Deze delicate, bloemige theeblend is geinspireerd op de geuren en smaken van Java, di boks yang satu lagi, Golden Batavia:  Deze rijke en ronde theeblend dankt zijn karakteristieke smaak aan de combinatie van Yunnan meet Java thee. Java dan Batavia, dua tempat yang rupanya cukup menggoda bagi para penikmat teh di luar negeri. Betapa teh dari negeri kita ternyata juga menjadi inspirasi.

Kami memutuskan untuk mencicipi Flowery Java terlebih dahulu. Dalam waktu yang tak lama, air panas dalam poci berubah warna, menjadi kuning kecoklatan menuju keemasan. Aroma wangi yang sedap muncul dari uap yang mengudara. Tak mau menunggu dingin saya coba cicipi teh rasa “Jawa” buatan Belanda itu.

Sruuuput…! Tak ada yang terlalu istimewa dari teh ini. Wanginya memang iya, tapi di lidah nyaris biasa saja. Mungkin karena mulut saya hampir saban hari diguyur dengan teh yang rasanya ada sepet-sepetnya, teh ini sepertinya tak akan terlalu cocok untuk mereka yang penikmat teh sejati. Rasanya terlalu halus, terlalu cantik, roh tehnya nyaris tenggelam oleh penampilan packagingnya.

Belanda bukanlah negeri penghasil teh, tetapi mereka begitu kreatif dalam menawarkan pilihan rasa, keterbatasan mereka (tak punya kebun teh) membuat kreatifitas mengelola teh justru bertambah. Beberapa orang eropa yang mungkin tak terlalu peka terhadap rasa asli teh memang akan tidak terlalu rewel dengan teh yang ada. Atau mungkin itu memang teh yang sudah diolah sesuai dengan selera mereka? Saya tidak tahu.

Indonesia sebagai negeri penghasil teh bersama India, Cina, Sri Lanka, serta Kenya mestinya tak boleh kalah, variasi rasa teh perlu diciptakan, kemasan teh perlu diperbaiki dan dibuat lebih menarik saat ditawarkan pada konsumen. Bagaimana pun juga konsumen tak hanya mementingkan rasa tapi juga “petualangan” saat menikmati tehnya.

Sejak kecil saya sudah minum dan lumayan mengenal beberapa merk teh yang dijual di Indonesia, mulai dari teh Sariwangi, Poci, Gopek, Cap Botol, Tong Tji, 2 Tang, Kepala Djenggot, Sosro, Cap Dandang, Cap Djempol, Nyapu, 999, Sintren, Tjatoet, Cap Bendera, Cap Mawar, dan mungkin masih ada yang lain tapi saya lupa namanya.

Tanggal 26 November yang lalu saya sempat membaca di harian KOMPAS yang menceritakan betapa dalam 10 tahun terakhir ini lahan kebun teh di Indonesia menyusut 30.000 hektar, atau kini tinggal tersisa 120.000 hektar. Mungkin beberapa diantaranya adalah yang masih sering kita lihat di Ciwidey, Puncak, Brebes, Wonosobo, dan Malang. Sedih membayangkan lahan-lahan perkebunan itu kini semakin sempit dan berkurang, mengalah pada perubahan yang seringkali kita sebut “kemajuan”.

Bicara soal teh, membuat saya jadi ingat seorang teman yang tinggal di Solo, namanya Blontankpoer, lelaki ini punya kepiawaian khusus dalam meramu aneka teh menjadi sebuah rasa baru yang nikmat. Waktu saya main ke kotanya, dia sempat membekali beberapa bungkus teh racikannya  Rasanya baru, dan enak saat diuyup.

Saya tetap berterima kasih pada kiriman teh dari Belanda ini, teh dari Belanda yang membuat saya tersadar, kita perlu lebih kreatif dalam mengolah teh, mengemas, dan menjualnya. Kurang elok rasanya sebagai negeri ke 5 terbesar penghasil teh dunia sampai saat ini malah justru kebanjiran teh import dari negeri yang sama sekali tak memilik kebun teh.

Rasa teh itu idealnya memang enak untuk semua, mulai  dari pekebun, pedagang, hingga penikmat teh di meja rumah, warung, restoran hingga pesta istana.

Saya mendapat hikmah dari secangkir teh yang tersaji pagi ini.

Salam,