Surat Novi dari Tibet

Sebuah surat dari teman yang sedang melakukan perjalanan membuat seolah kita ikut melihat dan merasakan apa yang dialaminya, begitu pun saat menerima surat dari Novi a.k.a @budenovi, sahabat kami yang kini bermukim di Ubud, Bali. Selamat membaca :)

>>>>

Surat pendek dari biara Dagpo Shedrupling Monastry, Kullu, Himachal Pradesh

Dalam sebuah perjalanan ke dalam ‘diri’ terkadang kita memerlukan tempat yang hening, karena dalam keheningan kita bisa bercakap dengan diri kita sendiri. Mungkin itulah yang selalu membuat saya mencandu untuk mengikuti silent retreat. Karena bercakap dengan ruang di dalam batin kita yang paling sunyi itu suara-suara sejati dari Ilahi sering begitu jelas terdengar dengan gamblangnya. Beberapa waktu yang lalu saya  menghabiskan waktu 2 minggu ( 6-22 September 2013) mengikuti retreat di Dagpo Shedrupling Monastry, sebuah biara Buddha aliran Gelugpa di Kullu , Himachal Pradesh. Retreat itu merupakan retreat tahunan Dagpo Rinpoche ( dipercaya sebagai reinkarnasi Dharmakirti, salah satu guru besar Buddha di Sriwijaya abad ke 8) dan diikuti oleh murid-murid beliau dari berbagai negara.

Tibet1

Entah karena saya penyuka cerita-cerita silat dengan imajinasi kehebatan para biksu-biksu saktinya itu atau memang biara ini memiliki satu daya magis tersendiri, begitu menjejakkan kaki di sini, saya merasa ini adalah ‘rumah’. Sebuah biara yang indah di lembah Kullu, dengan cuaca sekitar 14-18 derajat selsius, dengan sekitar 200an biksu membuat saya begitu bersemangat mengikuti retreat ini. Setiap pagi dari jendela kamar saya selain pohon-pohon mawar ada satu pemandangan yang sangat indah, yaitu biksu-biksu itu bangun jam 5, kemudian melakukan puja, setelah itu mereka belajar menghapal buku2 mereka. Di antara kabut pagi yang begitu dingin, biksu yang lebih besar membimbing biksu-biksu yang lebih kecil, mengalunkan suara syahdu mantra-mantra Tibet yang terdengar tak  asing bagi telinga ( ah jangan-jangan saya dulu biksu di Tibet ya?)

Tibet3

Ketika menjelang siang, biksu-biksu itu menjalankan kewajiban mereka masing-masing, ada yang menyapu, mengurus koperasi, mengurus kebun dll. Terkadang mereka pun seperti kita, bercanda dengan teman-temannya, sediking iseng dll.  Tetapi, yang membuat saya sangat merasa  tertegun, dari pancaran muka mereka, begitu tampak kedamaian dan kebahagiaan yang sangat nyata terlihat dari mata mereka. Padahal hidup mereka begitu sederhana. Mereka hanya punya 2 jubah, makan 2x sehari dengan menu yang begitu sederhana ( karena ada kami peserta retreat menu saat itu kata biksu-biksu itu sedikit enak,biasanya mereka hanya makan nasi dicampur ‘dal’ semacam bubur kacang hijau asin).

Retreat saya dimulai jam 8.30 dengan membaca puja 2 jam penuh tanpa berhenti bersama para biksu-biksu itu, kemudia mendengarkan teaching Dagpo Rinponche hingga break makan siang, kemudian diteruskan lagi jam 2.30 siang sampai 5 sore. Sesudah itu ada kelas bahasa Tibet selama 1 jam. Malam harinya kami harus review pelajaran dari Dagpo Rinpoche hingga terkadang jam 11 malam. Terkadang saya malu karena seperti biasa ada saat begitu malasnya atau tepatnya saat hampir menyerah pada kebosanan tetapi begitu melihat biksu-biksu kecil itu bersemangat  menghapal kitab-kitab hingga jam 11 malam.

Tibet4

Biara ini juga mendirikan sebuah sekolah untuk para pengungsi Tibet, jadi di bawah ada ruang-ruang kelas dan di atasnya para murid-murid setiap malam menginap. Setiap senja ada  hal yang membuat saya selalu merasa indah yaitu anak-anak itu berkumpul menyanyikan lagu-lagu daerah Tibet sebagai pengusir rasa kangen mereka ke orang tua.  Termasuk para Rinpoche kecil ( Rinpoche adalah sebutan  bagi yang mulia, diperuntukkan bagi para orang yang merupakan reinkarnasi dari para guru besar atau pemuka agama Buddha, untuk membedakan jubah mereka ada dalaman yang berwarna kuning). Tetapi yang paling mengharukan selama saya tinggal di sana adalah, ada 2 orang biksu kecil yang setiap sore selalu menunggu ibunya menjemputnya ( ternyata mereka dari keluarga yang sangat miskin dan oleh orang tuanya di “jual” ke biara).  Di akhir masa retreat itu saya mengikuti upacara Boddhicita, yaitu upacara mengambil sumpah bodisatwa ( para bodisatwa adalah para mahluk yang telah mencapai kebudhaan tetapi memilih terlahir kembali untuk menolong semua mahluk), yang mengharukan dari acara ini adalah berbondong-bondong para orang Tibet yang tinggal di pegunungan turun gunung berjalan kaki berpuluh-puluh kilo hanya untuk mengikuti ini. padahal banyak dari mereka sudah  berumur sangat tua. Tapi  mereka sangat bersemangat mengikuti upacara ini. Hal ini juga membuat saya tercenung, bahwa ternyata orang-orang Tibet ini meskipun dalam kondisi kemiskinan yang amat sangat mereka tetap mementingkan menolong mahluk lain dengan keiklasan luar biasa.

Menghabiskan 2 minggu dengan para biksu itu membuat saya merasa bahwa terkadang kita ini sering mempersulit segala sesuatunya dengan memikirkannya sedemikian rupa sehingga segalanya menjadi seolah-olah sulit, padahal ketika kita menghadapi segala sesuatu dengan kegembiraan dan keiklasan semuanya menjadi mengalir dengan sendirinya.

Salam sayang

Noviana “Budenovi” Kusumawardhani

>>>>