Saudagar dari Surabaya

Sejak Christian dan Steffica, sahabat kami, mulai pacaran saya sudah berjanji untuk datang jika mereka di kemudian hari akan menikah. Tuhan pun kian mempererat hubungan mereka, undangan datang melalui pos, 15 September 2013 diadakan sakramen pernikahan di Moonlight Chapel dan resepsi di Imperial Ballroom, Pakuwon Golf &Family Club, Surabaya.  Maka berangkatlah saya dan Indah ke Surabaya…

Kunjungan ke Surabaya yang bukan untuk keperluan kerja ini membuat kami punya waktu lebih luang untuk keliling kota pahlawan. Saudara sepupu kami, Agung dan Nana, berbaik hati mengantar kami ke House of Sampoerna yang letaknya di utara kota. Lokasi House of Sampoerna, tak jauh dari penjara Kalisosok yang sekarang sudah tak lagi dipakai. Mural dengan warna-warni pastel di dindingnya tak bisa menutupi keangkeran penjara tua seluas 3,5 hektar bikinan Belanda yang bersejarah itu.

Karena niat pergi ke Surabaya ini adalah untuk menghadiri resepsi pernikahan maka kami tak siap dengan peralatan memotret yang memadai. Kekaguman pada koleksi dan cerita yang mengiringi perjalanan perusahaan keluarga yang sudah masuk ke generasi ke-empat ini membuat kami terus berdecak, menggeleng kepala, terkadang mengangguk-angguk sambil sesekali memotret ala kadarnya dengan menggunakan kamera ponsel.

Sembilan sudut di sekitar The House of Sampoerna

Di perpustakaan kecil rumah kami, ada sebuah buku berjudul The Sampoerna Legacy, A family & Business History, cerita tentang perjuangan, jatuh bangun keluarga HM Sampoerna yang dibuat oleh Michelle Sampoerna.

Walau lewat googling dengan gampang kita bisa mengetahui sejarah perusahaan itu, buku mungil tersebut ternyata lebih menarik untuk dibuka lagi, dibaca ulang.

Ini ada beberapa halaman yang juga Anda bisa lihat, sebuah catatan panjang pahit-manis perjuangan sebuah keluarga yang disajikan secara ringan dan apik melalui ilustrasi-ilustrasi karya Diana Hollingsworth Gessler.

Michele Sampoerna mencatat apik perjalanan hidup leluhurnya

Pengembaraan ke selatan

Bukan perjalanan yang aman dan menyenangkan

Dji Sam Soe yang mengubah jalan hidup keluarga Liem

Kerja keras, ulet pantang menyerah

Aroma cengkeh yang “menggugah”

Sampoerna teater untuk pemutaran film dan pertunjukkan akrobat dari Shanghai

Renovasi untuk menghidupkan suasana

Produsen, penjual, dan konsumen harus sama-sama untung

Melinting rokok tanpa mesin

Klobot, kretek, dan “rokok putih”

Menjaga formula rahasia

Estafet kepemimpinan terus begulir

Membuka pabrik rokok Panamas di Bali

Nama Liem berganti menjadi Sampoerna

Menjaga akar, tanpa menghindari modernisasi

PT Hanjaya Mandala Sampoerna

Kreasi, inovasi tak kenal henti

Memorabilia yang tetap terjaga

Sampoerna Strategic Square di Jakarta

Sampoerna Foundation, kepedulian terhadap pendidikan dan masa depan generasi muda Indonesia

Sekali rengkuh dayung, dua pulau terlampaui, hari itu kami bisa menghadiri resepsi pernikahan sahabat sekaligus belajar tentang perjalanan panjang hidup keluarga Liem Seeng Tee yang penuh warna.

Salam,

Indah dan Iwan Esjepe