Sumbangan dari Berlin #1

Komunitas Berlari untuk Berbagi namanya. Mereka mengumpulkan uang dengan cara berlari, lalu uang itu disumbangkan untuk anak-anak penyandang disabilitas ganda dan penderita sumbing bibir dan langitan mulut .

Surat ini adalah cerita The Asiks, yang baru saja mengikuti Maraton Berlin akhir September 2013 lalu. Mellisa Karim menuliskannya untuk Keluarga Esjepe.

Banyak cara untuk berbuat baik, dengan berlari salah satunya.

>>>>>

(Sebelum saya memulai cerita tentang The Asiks di 40th Berlin Marathon, marilah kita menyamakan pikiran tentang beberapa hal terlebih dahulu.

  1. Panjang rute lari marathon adalah 42.195KM, sebagai gambaran, bayangkan lari dari Senen Jakarta Pusat ke Kemang Dalam, Jakarta Selatan, bolak balik 2x itu saja baru 40KM.  Ini modal Anda untuk jangan lagi bertanya “Oh lari marathon, berapa meter tuh?” di saat ada seseorang di sekitar Anda yang menyatakan niatnya untuk mengikuti lari marathon.
  2. Oh!  Juga jangan berkomentar “Semoga menang ya!” atau “Aduh semoga jadi juara ya!” kecuali jelas di depan Anda berdiri seseorang berkebangsaan Kenya atau Ethiopia yg terkenal di dunia sebagai jago-jagonya lari jarak jauh.)

Ok, let’s start.

Kami adalah Raty Ning, Amanda Walujo, Alice Budisatrijo, Esther Parapak, Viga Nasution, dan Melissa Karim.  Berenam kami adalah The Asiks yg merupakan bagian dari Komunitas Berlari untuk Berbagi40th Berlin Marathon yang baru saja terselenggara pada 29 September 2013 adalah marathon resmi kami yang pertama (sayangnya Amanda tidak jadi berlari di Berlin karena cedera lutut sebulan sebelum hari H) – confetti – tapi sebenarnya berenam kami sudah lari di New York Run Anyway Marathon 2012, memutari Central Park empat kali karena marathon yang sesungguhnya tidak jadi dilaksanakan akibat badai Sandy yang menimpa New York di minggu sebelumnya.

Moto Berlin Marathon yang tertulis pada medalinya mungkin mewakili isi hati kami dan para pelari jarak jauh kebanyakan, Run Once, Run Forever.

Kecintaan kami pada lari jarak jauh sebenarnya sulit diungkapkan dengan kata-kata, Anda mungkin harus mencoba dan mengalaminya sendiri.  Dan jangan pernah bilang tidak mungkin sebelum mencoba, terutama apabila Anda seorang perempuan yang bisa shopping dari mal buka sampai mal tutup, yakinlah Anda mampu menyelesaikan sebuah marathon.

To finish, itu adalah goal kami.  Setelah 18 minggu latihan dalam kebersamaan, mengutip ucapan Uni Raty, demikian Raty Ning biasa dipanggil, “Dari yang larinya pelan bangeeeet, jadi pelan aja.”  Untuk semua bisa berangkat ke Berlin, kami saling membantu secara mental, secara fisik, secara financial, maupun secara hati.  Maklumlah, namanya juga enam perempuan berkumpul, faktor hati menjadi sangat penting.

Kami sangat-sangat menikmati kebersamaan kami, our sisterhood, mungkin di sinilah kekuatan kami, berbeda dengan para pelari lain yang menikmati marathon sebagai olahraga individual, walaupun memang pada saat berlari kami mempunyai target sendiri-sendiri. Di atas KM 30, di saat otot-otot betis dan plantar sudah berteriak perih, terbayang nanti malam kami akan merayakan rasa sakit kami dengan penuh suka cita, bersama!  Jadi terus melangkah, berlari kecil menghilangkan keinginan untuk tidak finish, bersama dengan ribuan orang di sekeliling kami.

Ditambah lagi, tahun ini Raty Ning dan Esther Parapak, berlari untuk berbagi membawa amanat kemurahan hati banyak teman yang telah mengumpulkan dana untuk 3 yayasan yang mereka bantu, hanya dengan sampai ke garis finish.  Jadi harus selesai, harus sampai!

Satu minggu telah berlalu sejak 29 September 2013, rasa sakit di kaki berangsur hilang, rasa trauma berlari marathon juga berangsur terlupakan, yang masih teringat betapa menyenangkannya kebersamaan yang kami lewati di perjalanan Berlin Marathon minggu lalu.  Sebuah perjalanan spiritual yang penuh dengan makan enak menyenangkan hati, gelak tawa obat awet muda yang selalu ada, pelajaran untuk menguasai pikiran melebihi badan, berlari untuk misi sosial membawa amanat teman-teman yg sudah menyumbangkan dana dan yang terpenting kepercayaan diri yang tak akan pernah terlupakan, bahwa kami bisa, kami menyelesaikannya.  Pastinya kami tidak menciptakan rekor dunia baru 2 jam 3 menit untuk 42.195 km yg ditorehkan pada marathon ini, tapi dalam hati, untuk semua episode kehidupan yang akan datang, kami yakin, bahwa kami bisa, kami menyelesaikannya.

P.S. We did not lose weight over a marathon, it’s a myth!  If you drink and eat and run like we do, be grateful if you only gained extra 2 over a marathon trip.

Your humble finishers,

TheASIKS.

<<<<<