Surat dari Antartika

Di sebuah siang yang terik kami terima sebuah surat elektronik dari Michael Putrawenas, sahabat lama yang pertama kali kami kenal dalam pertemuan dengan teman-teman PPI Belanda di Den Haag 6 tahun yang lalu. Surat pendek yang sudah lama kami nantikan itu menceritakan perjalanannya ke Antartika. Tidak ada yang rahasia, Anda pun boleh ikut membacanya…

Kawan,

Apa kabar? Semoga kalian sekeluarga dalam keadaan baik dan selalu penuh kreativitas dalam berkarya dari tanah air kita yang hangat.

Saat ini aku berada di negeri antah-berantah, negeri yang sungguh tanpa tuan. Antartika, sebuah benua es di pojok selatan bumi ini disepakati untuk tidak dimiliki siapa pun. Tidak ada populasi manusia disini selain segelintir petugas dan peneliti dari berbagai negara. Meskipun tidak ada yang memiliki, justru Antartika ini dimiliki oleh semua. Sebuah perjanjian internasional mengatur bahwa tidak boleh ada aktivitas lain di Antartika selain untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan terutama melarang aktivitas militer. Traktat Antartika itu dimulai di tahun 1961 dan akan berakhir tahun 2041 jika tidak diperpanjang. Saat ini sudah sekitar 50 negara yang meratifikasi Traktat tersebut, namun tampaknya Indonesia belum turut serta.

Kawan, di sini tidak ada warna lain selain putihnya salju, birunya laut, dan gradasi kelabu beragam fauna laut. Terkadang ada sedikit kemerahan dari algae yang tumbuh, tapi tetap saja hilang ditelan salju. Sesekali sedikit warna coklat muncul dari batu yang menyembul karena lelehnya es. Selama beberapa hari pertama aku memang terkagum-kagum, namun setelah itu pikiranku tidak bisa lepas dari hamparan pohon hijau, warna-warni beragam flora, dan kesegaran embun pagi di atas daun dan rumput hijau di negeri kita.

Di sini juga aku beberapa kali bertemu dengan koloni penguin – yang sebelumnya hanya kutemui di kebun binatang dan di film animasi garapan Warner Bros. Mereka sangat bebas, dan karena memang tidak pernah diganggu umat manusia, mereka pun tidak menganggap kami musuh. Tampaknya mereka sama penasarannya kepada kami, seperti kami pun kepada mereka.

Penguin aslinya memang selucu dan seimut gambaran yang kita kenal. Bahkan lebih lucu jika dilihat di alamnya sendiri dengan tingkah tanduk mereka yang spontan dan gaya berjalan layaknya seekor makhluk bantet. Tapi satu yang tidak dapat kita indera hanya dengan melihat foto dan film tentang mereka – yaitu baunya. Pemandu kami menempatkannya demikian: tempat mereka tinggal itu adalah tempat guano. Hanya saja, karena dominannya warna putih salju itu tadi, maka dalam foto selalu tampak bersih meskipun sebenarnya banyak kotoran disitu. Ya, memang bau kotoran tidak akan dapat ditutupi hanya dengan sekedar pewarnaan.

Seperti penguin yang tidak merasa terganggu dengan kehadiran spesies aneh homo sapiens tadi, demikian pula dengan fauna endemik lainnya seperti anjing laut yang sesekali tampak seperti tersenyum dan ikan paus yang menguasai lautan dengan anggunnya. Mamalia raksasa itu bahkan seolah-olah ingin juga menyapa spesies yang katanya paling berkuasa di muka bumi ini namun sebenarnya bisa langsung kelabakan hanya dengan sekali kibas ekornya.

Kita harus angkat topi dengan bagaimana turisme di sini dikelola. Asosiasi pengelola turisme Antartika sungguh paham bahwa keberlangsungan pemasukan mereka sangat tergantung kepada kelestarian alam Antartika. Mereka bersepakat bahwa setiap perjalanan ke Antartika harus mengikuti prosedur pelestarian alam yang ketat. Prosedur sungguh mereka terapkan, demikian pula pada perjalanan yang kuikuti ini. Setiap saat sebelum kami naik kapal karet kecil dari kapal utama untuk menuju daratan, sepatu kami harus direndam cairan biokimia untuk membunuh bakteri-bakteri yang ada pada sepatu – sehingga dengan demikian, kami tidak membawa mikroba atau spesies asing di Antartika. Perihal sampah, sudah pasti juga ketat. Tidak hanya sekedar larangan membuang sampah, tapi kami tidak boleh membawa turun barang-barang yang berpotensi menjadi sampah – meskipun tidak sengaja. Misalnya, kami dilarang membawa permen karena bungkusnya bisa saja tak sengaja terbuang. Botol minum juga tidak boleh dengan tutup yang lepas, tapi harus tipe yang tutupnya tetap menempel. Kami juga dilarang buang air kecil apalagi besar selama di daratan Antartika. Bahkan, ketika camping pun, kami harus membawa kotak khusus untuk kebutuhan buang air – dan kami harus undi siapa yang harus bawa kotak itu nanti kembali ke kapal utama. Ketika kami trekking dan hiking, para pemandu memasang beberapa rambu sebagai petunjuk jalan supaya kami tetap di jalur aman – namun setelah selesai, rambu-rambu tersebut diambil kembali sehingga tidak ada yang ditinggal.

Teramat ketat memang, tapi kami pun merasakan manfaatnya. Alam Antartika masih asli dan ekosistemnya tidak terganggu. Mungkin kami lah yang menjadi tontonan bagi para satwa di sini, ketimbang kami yang menonton mereka. Kami hanya tamu di alam mereka.

Selagi di belahan teramat selatan di bumi ini, kukibarkan bendera merah putih yang kupinjam dari Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda di Den Haag yang dulu juga sempat kau datangi. Sang Merah Putih ini bukanlah yang pertama berkibar di Antartika, sudah ada beberapa yang dikibarkan oleh saudara sebangsa terlebih dahulu bahkan dengan jauh lebih banyak jerih payah daripada perjalananku ini. Entah apa alasan politis negara kita belum meratifikasi Traktat Antartika, tapi semoga sebagai bangsa kita turut menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi dan sosial dengan pelestarian lingkungan.

Salam dingin yang hangat,

Michael Putrawenas.

*Perjalanan ke Antartika ini dilakukan dalam rangka Inspire Antarctic Expedition 2041