Surat Indiana dari Zutphen

Ini adalah surat Indiana yang kedua dari Belanda. Surat ini bercerita tentang suasana kota kecil Zutphen dan kenangan waktu kami sekeluarga mengunjungi Indiana dan berkeliling kota itu. Selamat membaca:

Hari ini hujan….aku lagi dengerin lagu jadul, tiba-tiba inget waktu  kita jalan-jalan ke kota kecil di Zutphen.
Perjalanan dari Hilversum ke Zutphen memang lumayan jauh. Tapi enaknya gak ada macet dan kiri kanan jalan kita bisa menikmati pemandangan kota, rumah-rumah pertanian yang lucu, juga daerah peternakan yang sejauh mata memandang  berwarna hijau dan sapi-sapi gemuk tengah merumput di atasnya, seperti pemandangan yang sering kita lihat di buku dongeng HC Andersen, post card, dan film Heidi.

Rumah-rumah cantik nan asri di sepanjang jalan

Gak terasa kita  memasuki jembatan besar….lalu memasuki kota Zutphen. Mobil di parkir di tempat parkiran umum. Lalu kita berjalan kaki melewati lorong stasiun kereta api, menyebrang jalan memasuki centrum…melewati kanal…memasuki halaman gereja perpustakaan sebelum akhirnya  sampai di rumahnya Chiel yang cantik dan antik.  Dan petualangan kota ini pun kita mulai….

Mungkin belum banyak orang yang tahu atau mendengar nama kota ini. Kota tua ini terletak di bagian timur Belanda, tepatnya di provinsi Gelderland. Penduduknya tidak banyak hanya sekitar 50.000 jiwa.  Banyak keindahan yang bisa kita nikmati di kota ini. Kotanya mungil dengan bangunan-bangunan tua yang terawat apik dan cantik. Karena itu tidak heran, jika Zutphen menjadi kota tujuan wisata yang paling menarik saat ini.
Karena penduduknya sedikit jadi kota ini lebih sering senyapnya dari pada ramainya. Baru terasa hidup di akhir minggu karena orang-orang mulai keluar rumah. Selain libur akhir pekan, setiap hari sabtu juga digelar “pasar kaget” di centrum kota. “Pasar kaget” ini buka dari jam sepuluh pagi sampai jam lima sore. Pada hari itu mereka biasanya berbelanja kebutuhan sehari-hari seperti: sayuran hijau organik, aneka tanaman bunga hias yang molek, berbagai jenis ikan segar,  bermacam keju, roti aneka bentuk dan rasa, sampai pakaian dan aksesoris pokoknya segala macam di gelar di sini.

Suasana kota yang sepi dan tenang

Di musim panas,  penduduk Zutphen bukan hanya berbelanja, tapi banyak yang  jalan-jalan dan duduk-duduk untuk menikmati hangatnya sinar mentari sambil mengobrol  di teras cafe terbuka. Ada juga yang hanya duduk-duduk di bibir kolam air mancur sambil menikmati lezatnya es krim Itali. (Masih ingat kan bagaimana lezatnya es krim Talamini itu?). Atau karena banyak dijual ikan yang siap saji, bisa juga menikmati Ikan haring  mentah yang biasanya disantap dengan potongan bawang putih dan acar timun. Hmmmm…gurih dan lezat. Karena ikannya benar-benar fresh.

Ramai dan meriah di hari libur dan akhir pekan

Centrum kota Zutphen sangat unik, karena bukan hanya dikelilingi bangunan-bangunan antik, tapi jalannya pun tersusun dari batu-batu yang usianya ratusan tahun sehingga menambah kesan klasik kota ini.  Toko-tokonya sangat cantik. Banyak gang-gang kecil yang dikanan kirinya berjejer cafe, toko roti, kedai, dan toko teh yang sangat unik,  juga boutique, toko sepatu dan tas branded, salon, sampai toko loak non profit yang menjual barang-barang bekas dan hobi, hasil penjualan dari toko ini akan disumbangkan buat kepentingan sosial. Ada satu lagi yang menarik yaitu ada sebuah resto yang pelayannya khusus orang-orang cacat. Walau fisik mereka tidak sempurna tapi mereka punya kesempatan bekerja seperti orang normal lainnya di sebuah restoran yang banyak dikunjungi pelanggan.

Di Zutphen juga konon banyak seniman dan seniwati  yang tinggal di kota ini. Kita bisa perhatikan dari banyak orang yang seliweran di jalan dengan gaya mereka unik. Cara berpakaian dan dandanan rambut mereka pun nyentrik. Salah satunya adalah seniman keramik wanita, Hanneke Verhey, yang sangat terkenal.  Keramik buatannya sangat tipis dan bila terkena cahaya semakin indah. Guratan lukisan di atasnya juga sangat lembut. Sebuah keramik bentuk mangkuk ukuran kecil hasil karyanya harganya bisa 150 euro. Seniman wanita yang bertubuh tinggi besar ini tinggal di bersama suaminya di rumah yang sekaligus jadi galeri dan workshop tempatnya bekerja. Turis yang datang ke Zutphen biasanya tidak melewatkan kunjungan ke galerinya.

Jalan-jalan di kota Zutphen pada musim semi terasa menyenangkan. Karena di sepanjang jalan yang kita lewati banyak rumah-rumah yang dihiasi bunga mawar yang kelopaknya besar dan bertumpuk dengan aneka warna yang sangat cantik. Bunga-bunga mawar itu sering kita lihat ditanam merambat di pintu dan di jendela. Indah sekali.  Seperti yang sering kita lihat di film-film, kalender, post card, dan ilustrasi di buku-buku dongeng. Selain mawar, sudah pasti tulip, dendrodeon, dan masih banyak lagi. Memang tidak bisa dipungkiri orang Belanda sangat menyukai bunga. Nyaris di setiap rumah mereka ditanami bunga-bunga di halaman dan di jendela-jendela rumah mereka diletakkan pot-pot dengan aneka bunga yang jelita. Memang rata-rata hampir sebagian besar penduduk Belanda memiliki kebun kecil sendiri. Kebun mereka ditanami aneka bunga dan sangat terawat sehingga memberika kesan cantik kepada lingkungan.

Tak punya halaman bukan alasan untuk tidak menanam bunga

Menjelajah kota ini dengan berjalan kaki sungguh tidak terasa meletihkan. Karena disuguhi pemandangan yang luar biasa indah, sungai dengan bebek-bebek berenang di tepian, dan di tempat ini juga kita masih bisa menemukan sisa-sisa great wall yang terbuat dari batu bata tinggi yang membentengi kota itu dari serangan nazi di jaman perang dunia. Konon dulu di zaman itu  jika terdengar bunyi lonceng menjelang sore hari, penduduk di situ buru-buru masuk ke dalam kota untuk melindungi diri dari serangan musuh.
Bukan Belanda juga kalau tidak ada kanal. Di Zutphen kita juga bisa menikmati kanal dan dari atas kanal itu kita dapat melihat pemandangan sekitar kota dengan menaiki perahu.  Dari atas perahu kita bisa menyaksikan di kanan kiri rumah-rumah antik dengan balkonnya yang cantik. Oh iya, di sini juga kita masih bisa melihat bentuk rumah Hof yaitu rumah-rumah berdempetan dengan satu kebun yang tidak besar. Jadi mereka menanam dan merawat kebun itu bersama-sama.

Kalau pergi ke Zutphen tidak lengkap jika kita tidak memasuki gereja tua yang dibangun pada tahun 1300-an itu. Orang Belanda rupanya sudah banyak yang jarang pergi ke gereja maka kini gereja tersebut berubah fungsi menjadi perpustakaan publik. Setiap wiken perpustakaan itu banyak didatangi pengunjung. Di dalam perpustakaan sangat indah dan nyaman. Kita bisa membaca di lantai bawah atau di mezzanin.  Buku-bukunya pun komplet dan sarananya sangat modern. Sebuah paradoks yang indah, bangunan fisiknya sangat antik tapi di dalamnya sangat kontemporer. Perpustakan ini bisa dibilang merupakan salah satu icon yang patut dikunjungi di Zutphen.

Perpustakaan kota Zutphen

Di seberang perpustakaan gereja itu terdapat rumah antik yang usianya juga sudah ratusan tahun. Rumah tua dan bersejarah itu termasuk dalam cagar budaya setempat. Dibangun sebelum tahun 1310. Rumah ini berlantai 3, di lantai bawahnya masih ada kelder atau gudang bawah tanah yang terdapat pintu tembus menuju gereja. Tapi pintu itu sekarang sudah ditutup. Kelder ini dulu berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan di waktu musim dingin. Kalau sekarang kelder kebanyakan berfungsi sebagai gudang. Rumah antik dan bersejarah ini merupakan salah satu dari dua rumah yang letaknya bersebelahan yang dilindungi negara.

Rumah berusia ratusan tahun ini dikenali dari adanya De druipstrook fussen (pintu saluran air) di Broederenkerkplein 19 dan 21. Dan  dua rumah ini juga termasuk yang selamat dari pengeboman yang terjadi pada tanggal 14 oktober 1944. Bahkan rumah ini masuk dalam buku tentang sejarah Zutphen yaitu, “Lopen door het verleden van het Barlhezekwartier.”  Jika musim semi atau musim panas rumah antik itu akan kelihatan makin berkilau dan cantik dengan mawar warna pink yang merambat di depan pintu masuk dan jendelanya.

Jembatan tua, kereta kuda, dan rumah bersejarah

Sejarah kepemilikan rumah ini juga unik. Menurut pemiliknya yang sekarang, Indah Aryani  (orang Indonesia yg menikah dengan pria Belanda),  dia membeli rumah ini dari seorang wanita karier yang bertugas sebagai atase di kementrian luar negeri Belanda. Si wanita itu sendiri jarang menempati rumahnya, karena tugasnya sering ke luar negeri terutama negara-negara Timur Tengah dan Asia Tenggara, seperti Sudan, Afghanistan, Thailand dsb. Makanya tidak aneh, di dalam rumahnya pun  beberapa pintu masuk dan temboknya dibuat bentuk lengkungan seperti mesjid. Dan interiornya banyak dipenuhi oleh pernak-pernik seperti patung-patung Buddha dan pernak-pernik dari negara Timur lainnya. Suasananya terasa begitu magis. Sebelum ditinggali wanita itu, konon rumah ini ditempati pula oleh wanita yang sampai sekarang masih hidup dan kini sudah berusia 90 tahunan. Kita beruntung bisa kenal dengan Indah, dan bisa duduk-duduk minum teh, menghirup udara, dan menikmati pancaran sinar matahari musim panas sambil memandangi bunga mawar warna pink dan putih yang tumbuh di balkon lantai dua rumahnya. Sebuah pengalaman yang istimewa bukan?

Ayo, kapan kita berkeliling kota Zutphen lagi?
Dag!
Indiana