Siapa hendak turut, ke Bandung, Surabaya?

Saya selalu senang kalau bisa bepergian naik kereta api, apalagi kalau perginya di siang hari, sepanjang jalan aneka pemandangan jadi suguhan di jendela kaca yang ada di kanan atau kiri kita.

Sejarah panjang kereta api Indonesia

Bukan hanya kendaraan dengan rangkaian gerbong panjang, kereta api di Indonesia juga punya sejarah panjang. Belum lama ini saya beli sebuah buku baru, buku bagus yang bercerita soal sejarah kerete api di negeri kita. Judulnya The Beauty of Indonesian Railways, bukunya bagus, lebih dari 340 halaman, berwarna semua. Di sini akan saya coba cuplik beberapa hal menarik yang ada di buku itu, siapa tahu Anda juga ingin tahu tentang awal mula keberadaan “kereta besi panjang” ini di tanah air.

Lokomotif tua di Balai Yasa, Pulubrayan, Sumatera Utara

KA B 2503, lokomotif bergerigi khusus untuk jalur menanjak

Nederlandsch –Indische Spoorweg-Maatschappij (NISM) Perusahaan kereta api penjajah mulai memulai penggunaan kereta di atas rel besi ini di tanggal 10 Agustus 1867 jalur sepanjang 25 kilometer yang membujur antara Semarang dan stasiun Tanggung. Kejadian itu menorehkan catatan bahwa negeri kita adalah negeri ke dua setelah India yang memiliki moda trasnportasi kereta api di Asia.

Kantor pusat PT KAI Bandung

Stasiun Jakarta Kota atau dikenal juga sebagai stasiun Beos

Stasiun Tanjung Priok, pernah menjadi stasiun kereta api termewah di Asia Tenggara

Stasiun Gambir, Jakarta, beroperasi sejak 1971

Stasiun Cirebon, titik pertemuan jalur utara dan selatan

Perjalanan waktu mencatat peran kereta api dalam upaya mendukung industri gula di Jawa di akhir abda 18 dan awal abad 19. Pembukaan jalur kereta kemudian menyambungkan banyak kota di Jawa, Sumatera dan sedikit di Sulawesi.

Di buku ini ditampilkan juga banyak foto kereta api yang pernah dan yang masih beroperasi, foto dan cerita tentang stasiun, terowongan, jembatan, serta foto tentang kehidupan manusia yang mengitarinya.

Kereta api wisata di Ambarawa

Lokomotif kereta pengangkut minyak sawit di Pabatu, Sumatera Utara

Siap menerobos terowongan Sasaksaat, Jawa Barat

KA komuter setia mengantar penumpang keluar-masuk Jakarta

KA Argo Bromo Anggrek merayap di pesisir utara Jawa

KA Malabar di tengah hamparan sawah, mendekati kota Bandung

Argo Wilis melintasi tatar Pasundan

Jalur Jakarta – Surabaya dengan Argo Bromo Anggrek

Di toko buku sudah dijual, silakan lihat dan dapatkan untuk mendapat informasi lebih lengkap tentang “ular besi” yang banyak sekali jasanya sebagai alat transportasi penting anak negeri.

Membaca buku ini sangatlah mengasyikan, apalagi sambil membayangkan di masa depan negeri ini punya sistem perkereta-apian yang canggih, yang banyak rangkaian loko dan gerbongnya, sehingga jika butuh kendaraan untuk mudik lebaran atau natal tidak harus berhimpit-himpitan. Lebih enak lagi jika sambil makan wingko babad yang ada gambarnya kereta api atau menyantap kue yang namanya “ganjel rel”, minumnya teh manis hangat. Hmmm…(sambil senyum, merem dan geleng-geleng).

Interior mewah kereta wisata Bali

Demikian sedikit gambaran tentang buku The Beauty of Indonesian Railways ini. Bila masih penasaran dan ingin tahu lebih banyak, silakan cari saja bukunya ya…

Salam,

Iwan Esjepe