Surat Indiana dari Hilversum

Halo Indah, Iwan, dan Ikyu!

Sekarang  sudah hampir bulan Mei, kalian masih ingat kan pada hangat dan cerianya musim semi di Hilversum? Daun-daun berwarna hijau pupus, segar seperti pagi sepanjang hari. Belum lagi bunga-bunga mulai bermekaran di kebun, di sepanjang jalan, di hutan…duh cantiiik sekali. Aku tinggal di rumah Indah dan Chiel yang letaknya di pinggir hutan. Rumahnya besar dengan halaman luas. Seringkali aku memetik bunga lily of the valley yang banyak tumbuh di belakang rumah lalu aku rangkai di vas dan kuletakkan di jendela kamar.

Hilversum  letaknya di antara Amsterdam dan Utrecht. Daerah ini dikelilingi oleh danau, hutan, padang rumput, dan villa-villa yang mewah. Konon Hilversum disebut juga “mentengnya” Belanda mungkin karena banyak bermukim orang-orang kaya. Kota ini sering disebut juga kota media, karena di sanalah pusat broadcasting radio dan televisi Belanda berada.

Indah, aku jadi ingat waktu bulan Juni kamu datang bersama Iwan dan Ikyu ke Vaartweg. Duh senang sekali deh bisa ketemu kalian di Hilversum. Kebetulan pula hari itu Iwan akan diwawancara radio Nederland Wereldomroep. Dengan diantar Chiel Westra kita pergi ke stasiun radio itu. Sementara kamu dan Iwan berada di dalam ruang siaran, aku dan Ikyu menunggu di ruang sebelah sambil terkantuk-kantuk. Oh iya, sebelumnya kita diajak makan siang oleh Prita dan Feba di kafetaria, sempat juga dikenalkan pada beberapa teman penyiar dari seksi Indonesia di sana. Setelah selesai diwawancara kita diajak melihat-lihat studio yang besar dan modern. Ah kalau inget peristiwa ini, jadi melow. Karena gak nyangka tidak lama setelah itu seksi Indonesia di radio Nederland ditutup karena krisis keuangan di Eropa.

Meskipun kota Hilversum tak seramai Den Haag atau Amsterdam, aku tak merasa bosan di sini. Kalau aku sedang gak ada acara aku biasanya pergi naik sepeda, masuk ke hutan. Naik sepeda di sana tidak terasa lelah karena jalan yang landai, udara pun tidak panas, jalanan sepeda yang khusus, dan pengendara mobil yang sopan. Naik sepeda jadi hal yang sangat menyenangkan selain badan sehat, kuat, kita bisa menikmati pemandangan sekitar dengan leluasa.  Aku sangat menikmati melihat rumah-rumah cantik dengan bunga-bunga bermekaran di jendelanya. Ah, terlalu banyak kenangan manis jika ingat Hilversum. Tidak  heran, walau kamu selalu tinggal di Den Haag kalau sedang ke Belanda, tapi kamu selalu bilang kalau kamu pingin sekali tinggal dan punya rumah di Hilversum, aku juga punya angan-angan yang sama.

Melihat rumah penunggu hutan yang indah seperti di negeri dongeng, atau sekedar duduk-duduk melihat kuda berlarian di padang rumput, angsa berenang, atau berkaca di sungai yang jernih. Ah tinggal di Hilversum seperti di surga, kotanya indah dan tenang.

Aku juga sering ke centrum, main ke tempat-tempat seperti daerah pertanian, laut, atau main ke rumah teman-teman di sana, tentu dengan naik sepeda. Kadang larut malam baru pulang ke rumah yang harus melewati hutan sendirian. Walau rada takut tapi lama-lama jadi terbiasa.

Sepulangnya dari radio Wereldomroep kita diajak jalan-jalan melihat kota Hilversum. Salah satunya ke town hall yang dibuat oleh arsitek terkenal Belanda, Willem Marinus Dudok. Kalau melihat bangunan-bangunan yang didesain oleh Dudok mata awam akan langsung menangkap ciri yang khas yaitu tembok yang berwarna kuning dan bata ekspos yang detil sekali.

Di Hilversum kita masih bisa menemukan jejak-jejak karya Dudok itu di berbagai sudut kota.

Ah….Hilversum aku juga selalu ingat naik sepeda ke loosdrecht yang cukup jauh…lalu berhenti sejenak untuk membeli ek krim buatan rumah di daerah Boeren. Aku selalu suka ek krim rasa mangga yang terasa segar di musim panas. Kadang naik sepeda sendirian ke centrum lalu makan baklava sambil duduk memandangi orang lalu lalang, membeli keju, atau sekedar permen di toko gula-gula.

Gak terasa waktu cepat sekali berlalu dan saat itu kalian harus segera mengejar kereta untuk kembali ke Den Haag. Ketika kalian hilang dari pandangan aku merasa kelayu….sedih.

Indah, Iwan, dan Ikyu aku sudahi dulu surat ini, ya. Udah malem. Sampai ketemu lagi lain waktu.

Dag!

Indi