Sepeda Burung Blekok

Betapa senangnya melihat orang-orang bersepeda, terlebih lagi kalau sedang berada di Belanda. Negeri Kincir Angin itu memang terkenal dengan penduduknya yang senang bersepeda. Lalu-lalang anak sekolah, pekerja kantoran, hingga ibu rumah tangga mengendarai sepeda adalah pemandangan sehari-hari. Saya paling senang melihat orang-orang bersepeda setiap pagi dari jendela kamar di lantai dua rumah famili kami di Galvani Straat, Den Haag. Bunyi kring-kring bel sepeda saling menyapa membuat lingkungan yang biasanya sepi jadi sedikit lebih hidup di pagi hari.

Memang, bersepeda di sana sangat mengasikkan, karena selain tersedianya lintasan sepeda, kontur tanah yang cenderung landai dan udara yang sejuk membuat acara mengayuh sepeda jadi tidak terlalu menguras keringat. Naik sepeda juga menyehatkan, tidak repot mencari parkir, dan anti macet. Dari Galvani Straat, tempat kami tinggal bila sedang berada di Den Haag, ke Kedutaan Besar Indonesia di Belanda yang letaknya di Tobias Asserlaan adalah rute favorit kami karena jalur itu tidak terlalu ramai dan banyak pohon-pohon besar tumbuh di sepanjang jalan.

Di mana-mana kita akan temukan sepeda diletakkan, hampir di setiap sudut kota, di tepi jalan gang sempit, di depan toko, di pagar gedung perkantoran, di atas jembatan, pokoknya di mana saja asal ada tempat untuk menambatkan sepeda.

Tempat parkir sepeda di pusat kota maupun di stasiun kereta juga selalu penuh, terutama pada jam-jam kerja. Parkiran sepeda ini umumnya dibuat bertingkat-tingkat supaya bisa memuat sebanyak mungkin sepeda di lahan yang terbatas.

Di belanda, sepeda juga tak luput dari sasaran pengiklan…hehehe… :)) Brosur atau flyer promosi dibuat sedemikian rupa supaya tak hilang tertiup angin…

Kalau diamati, orang Belanda yang suka bersepeda itu sepertinya tak terlalu mementingkan penampilan sepedanya. Yang penting berfungi dengan baik, itu sudah cukup. Jarang terlihat sepeda keren dan kinclong di sini. Meskipun kalau lihat di toko-toko sepeda banyak sekali model sepeda dari berbagai merek yang dijual, mulai dari model oma fiets sampai sepeda moderen bertenaga listrik pun ada. Di bawah ini beberapa merek sepeda yang kami lihat banyak bertebaran di seputar Amsterdam, Den Haag, dan Leiden.

Ketertarikan saya pada sepeda, khususnya sepeda tua yang sering disebut juga sebagai sepeda onthel memang berawal dari mengamati sepeda-sepeda saat berkunjung ke Belanda. Rasa tertarik itu semakin kuat ketika pada suatu hari, seorang sahabat kami, Yazied Syafaat dan kawan-kawan dari komunitas Opoto, di Yogya mengajak kami ber-onthel-ria keliling desa, menyusuri kampung dan sawah-sawah hingga ke kompleks perumahan igloo di Kampung Nglepen. Di sanalah saya merasakan betapa enaknya mengendarai onthel itu. Diam-diam saya pun memendam keinginan untuk suatu hari bisa memiliki sebuah sepeda onthel juga. Sepeda yang saya incar adalah sepeda perempuan, keluaran Inggris bermerek Raleigh, tahun produksinya saya tidak tahu, tapi kalau bisa ada sebuah patung burung kecil berwarna emas yang bertengger di ujung spakbornya.

Tak disangka tak dinyana, beberapa bulan setelah peristiwa ngonthel di Yogya itu, akhirnya saya ketemu juga dengan sepeda idaman saya. Ceritanya begini:

Setiap kali mengantar Ikyu ke sekolah, kami melewati sebuah warung kelontong (sudah lama ya tidak mendengar kata: kelontong?) Warung itu sederhana dan menjual berbagai macam barang, mulai dari beras, telur ayam kampung, arang, sapu lidi, papan penggilas cucian, sampai sepeda onthel! Beberapa hari lalu, kami kembali melewati warung tersebut, dan tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah sepeda onthel berwarna hijau yang “parkir” di depan warung itu. Di ujung spakbor-nya bertengger burung besi mungil berwarna emas! Aha, itu kan sepeda yang sudah lama saya cari, pikir saya. Tanpa pikir panjang, kami segera berhenti untuk melihat lebih dekat. Ternyata benar, itu adalah sepeda Raleigh idaman saya.
Singkat cerita, setelah tawar-menawar akhirnya kami pun memboyong sepeda tua itu ke rumah. Meskipun harus diperbaiki di sana-sini, namun kami cukup puas, karena banyak bagian-bagian dari sepeda berlogo burung heron alias burung blekok itu yang tampak masih orisinil dan berfungsi dengan baik. Senangnya punya sepeda baru (tapi lama).

Kapan-kapan saya akan lanjutkan lagi cerita tentang sepeda burung blekok saya itu ya!

Cheers,

indah esjepe