Melihat “Penghuni” Museum Nasional

Siapa sajakah yang kini menghuni gedung megah yang di bangun pada tahun 1778 itu?

Yang satu sosoknya tinggi besar, bisa jadi dua kali ukuran manusia, tangan kirinya memegang cawan yang terbuat dari tengkorak, tangan kanannya menggenggam keris pendek. Menghadap ke barat, berdiri kaku di atas mayat bayi dan barisan belulang tengkorak.

“Penghuni” gedung tua bergaya klasik di Jl. Merdeka Barat bukan cuma satu itu saja, melainkan ribuan jumlahnya, ada yang bertampang baik dan bijak, tapi banyak juga yang berwajah garang dan menyeramkan. Bahkan ada yang berkepala dua, bertangan empat atau delapan, serta berwajah binatang; sapi, gajah, dan garuda.

Namanya saja museum, koleksi benda-benda bersejarah di Museum Nasional sangat beragam dan tentu sangat berharga. Tak hanya patung atau arca, di tempat itu tersimpan berbagai prasasti, kerajinan, numismatik (uang kuno), wayang, gamelan, tekstil, keramik, emas, dan peninggalan sejarah lainnya di Indonesia. Patung gajah yang dipasang di halamannya merupakan hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand, sejarah mencatat peristiwa itu terjadi di tahun 1871.

Dibanding dengan museum lain di Indonesia, kondisi museum ini lumayan terawat, meskipun terlihat agak gelap dan suram, mestinya dengan penataan cahaya dan letak yang lebih baik Museum Nasional bisa lebih menyenangkan dan informatif lagi. Beberapa keterangan tentang arca maupun koleksi yang ada banyak yang sudah tidak pada tempatnya. Museum yang pengoperasiannya dibiayai oleh APBN ini memungut tiket masuk untuk WNI sebesar 5000 rupiah untuk dewasa, 2000 rupiah untuk anak-anak. sedangkan untuk turis asing 10.000 rupiah untuk dewasa maupun anak-anak.

Tak ada salahnya membawa keluarga, terutama anak-anak, untuk mengunjungi Museum Nasional yang lebih populer dengan sebutan Museum Gajah ini. Mungkin dengan demikian kita bisa belajar untuk semakin memahami sekaligus menghargai kekayaan bangsa sendiri. Tapi jangan datang di atas pukul empat atau lima sore, ya! Museumnya sudah tutup.

Sambil memegang arca Nandini yang berbentuk lembu (konon kendaraan dewa Siwa) saya membayangkan siapa saja empu-empu yang mahakaryanya kini dipajang di situ, membayangkan jika saja dana pengelolaan bisa dinaikkan, pasti museum ini bisa tampil lebih keren lagi, koleksi museum terlengkap di Asia Tenggara ini begitu luar biasa berharga, sayang kalau penyajian masih ala kadarnya. Saya juga membayangkan nanti saat malam tiba, penghuni gelap akan muncul dan berpesta. Hiiiiii…

Salam,

Iwan Esjepe