Saya Kehilangan Kata…

(Obituari untuk sahabat, Ndaru Kuntoro)

Pernah mendengar kisah butir garam yang menghidupkan? Cerita tentang seorang ibu yang sangat sedih dan tak rela kehilangan anaknya, seorang ibu yang mencari berbagai macam cara agar anaknya bisa kembali hidup, dan bangun dari kematian. Puluhan tabib di seluruh penjuru negeri dia datangi namun tak ada satu tabib pun yang mampu mewujudkan keinginan sang ibu yang tengah berduka itu. Tak ada satu resep pun yang bisa diberikan agar anaknya bisa hidup kembali, sampai akhirnya berjumpalah dia dengan seorang tabib tua yang bijaksana di pinggir sebuah desa, sang tabib berjanji untuk menghidupkan kembali anaknya, tetapi dengan satu syarat: ibu itu harus bisa mendapatkan sejumput garam dari sebuah keluarga yang belum pernah kehilangan satu pun anggota keluarganya. Betapa riang hati si ibu, sejumput garam adalah perkara mudah, hampir setiap rumah di desa itu pasti mempunyai garam, dan keluarga mana pun pasti tak akan keberatan untuk memberikan sekedar sejumput dari garam miliknya.

Pintu rumah pertama diketuknya dan garam dengan mudah didapatkan, tapi saat sang ibu bertanya, apakah keluarga pemberi garam itu pernah kehilangan anggota keluarganya, si pemilik rumah menjawab, “Ya, pernah”. Begitu terus sampai seluruh pintu rumah di desa itu didatanginya, tapi sang ibu selalu mendapatkan jawaban yang sama,“Ya, pernah. Kami pernah kehilangan anggota keluarga kami”. Setelah berkeliling ke seluruh desa, ibu itu akhirnya menyerah, dia kembali mendatangi tabib tua sambil berkata, “Semua orang yang saya datangi dan mintai garam pernah kehilangan anggota keluarganya, sekarang saya sadar saya harus belajar untuk menerima dengan pasrah dan ikhlas semua kejadian ini”.

Kisah di atas sudah sangat sering kami dengar, namun itu ternyata tak cukup mempan untuk membuat kami tak berduka atas kepergian sahabat kami, Ndaru Kuntoro.

Orang mengatakan bahwa kematian adalah sebuah keniscayaan, kami setuju, tapi kepergian Ndaru ini amat sangat mengejutkan. Bagai disambar petir di siang bolong kami mendengar kabar kematiannya, kematian yang diidamkannya: kematian yang tidak merepotkan banyak orang. Pernah di suatu siang Ndaru berkata, “Jika diperbolehkan, aku ingin kematianku tidak merepotkan banyak orang”, keinginannya itu akhirnya terwujud.

Lelaki kelahiran Jepara 49 tahun lalu ini memang agak unik; buat kami, dia adalah kamus hidup yang bisa membuka sendiri lembar halaman sesuai kebutuhan, Ndaru adalah sosok yang selalu haus akan ilmu. Latar belakang psikologi yang dia kuasai diaduk dengan berbagai informasi menjadi bahan dan “bumbu lezat” bagi apa pun “masakan” yang akan dibuatnya. Semua ilmu yang  dimiliki tak pernah disimpannya sendiri, dengan mudah dan senang hati dibagikannya pada kami, teman-temannya.

Sejak 2,5 tahun belakangan ini, dia tak hanya memperkaya dirinya dengan pengetahuan tetapi juga semakin mendekatkan diri dengan Tuhannya. Keinginannya untuk mengunjungi Tanah Suci terwujud saat melaksanakan umroh di bulan Februari 2013 lalu. Bahkan pada Kamis, 28 Maret kemarin ia sempat mengutarakan niatnya untuk berhaji. Walau belum sempat terwujud, kami yakin Allah SWT telah mencatat niatnya untuk menjalankan rukun Islam yang ke 5 itu.

Teman main, teman sekolah, teman kuliah, teman kerja, dan kerabat banyak yang datang untuk melayat dan mengantarkan Ndaru ke peristirahatannya yang terakhir, yang tak sempat hadir menulis di wall facebook dan twitternya, inti semua pesan itu adalah sama: mengatakan Ndaru adalah orang baik. Koespramanto, salah seorang temannya saat bekerja di JWT mengatakan, “Ndaru adalah orang yang tak punya musuh, dia selalu baik pada semua orang”.

Lebih dari kesedihan yang kita rasakan, Alita dan Mbak Ike pasti merasa amat sangat kehilangan. Sama seperti kami yang kehilangan kata untuk melanjutkan melukiskan rasa duka. Tak cukup rasanya halaman surat ini untuk memuat semua kebaikan yang pernah almarhum lakukan semasa hidupnya serta kenangan manis kami bersamanya.

Hanya doa yang bisa kami panjatkan, doa yang tak terputus dari kami, dari Anda para sahabat yang merasa sangat sedih karena kehilangan orang baik yang pernah hadir dalam hidup kita, semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan.

Kami yakin, ini bukanlah satu-satunya cerita tentang Ndaru Kuntoro, setiap temannya pasti punya kenangan indah sendiri bersama almarhum.

Selamat jalan Ndaru; rekan kerja, teman diskusi, guru, sahabat, sekaligus kakak kami terkasih.

Jalan terang akan membimbing langkahmu menuju Sang Khalik. Beristirahatlah dalam damai dan peluk hangatNYA.

Berikut ini adalah beberapa pemikiran almarhum yang kami kumpulkan dari kicauannya di twitter @ndarukuntoro.

Ndaru1

Ndaru2

Ndaru3

Ndaru4

Ndaru5

Salam,

keluarga esjepe