Ojo gumunan

Tukang bubur, tukang batu, tukang kayu, tukang cukur, tukang jahit, tukang masak, tukang las, dan masih ada ratusan bahkan mungkin ribuan kalau mau disebutkan jenis-jenis tukang yang ada. Tukang adalah orang yang bekerja dengan keahlian atau kepandaian tertentu dalam sebuah pekerjaan. Dari banyak tukang yang ada di dunia ini, tukang sulap adalah orang yang paling saya kagumi.

Ketakjuban saya pada sulap bermula sekitar tahun 1975, saat masih duduk di kursi SD di Solo. Suatu siang ada pengumuman di depan kelas bahwa besok sekolah akan kedatangan seorang tukang sulap. Saya dan teman-teman bersorak gembira, sebuah pengalaman pertama akan terjadi besok siang; melihat tukang sulap beraksi.

Lapangan yang biasa dipakai untuk upacara siang itu dipenuhi siswa, tapi formasinya agak berbeda, kali kami ini duduk membentuk sebuah lingkaran besar. Suara riuh mendadak diam setelah seorang lelaki dengan pakaian serba hitam masuk ke tengah lingkaran. Tanpa banyak bicara satu persatu trik dipertunjukkan, mulai dari keahlian pesulap menghilangkan dan memunculkan sebuah benda dengan kecepatan tangannya, permainan dengan kartu remi, sampai saat dia mengubah sapu tangan menjadi burung merpati. Decak kagum dan tepuk tangan terdengar keras sekali. Begitu terkesimanya saya, sejak itu setiap kali melihat sapu tangan saya selalu membayangkan burung merpati yang terbang keluar dari lipatannya.

Di masa SMP tukang sulap saya lihat dalam bentuk lain lagi, dia adalah seorang tukang obat yang jago omong, “kemampuannya” membuat koin seratus rupiah berubah menjadi koin seribu dan mengubah kelereng jadi bola bekel adalah caranya memukau penonton agar mau membeli dagangannya, obat “pembesar” khusus untuk orang dewasa. Ada-ada saja.

Semakin ke sini, keahlian para tukang sulap semakin “menggila”, saya melihat bagaimana David Copperfield, David Blaine, dan masih banyak lagi. Bukan hanya triknya yang makin berkembang, tetapi peralatan dan teknologinya pun semakin canggih saja. Di dalam negeri perkembangan sulap juga meningkat pesat, pesohor baru bermunculan mulai dari yang gondrong dan berjanggut hingga yang plontos tak berambut, pertunjukkan sulap selalu ditunggu, selalu mencengangkan, menghipnotis, dan berhasil membuat para penonton mempercayai setiap ilusi yang ditampilkan.

sulapLR

Masyarakat yang kenyang, masyarakat yang senang adalah masyarakat yang mudah diatur, itulah modal kelangsungan kekuasaan. “Beri mereka roti dan sirkus!”, demikian pesan penting Julius  Caesar dalam mempertahankan kekuasaannya. Selain makan manusia juga perlu hiburan. Pada era di mana moral belum banyak diperbincangkan, pertarungan gladiator vs hewan maupun gladiator vs gladiator bisa ditonton di Colosseum.  Seiring dengan bergeraknya zaman, muncullah sirkus, opera, film, hingga sinetron dan bahkan gosip sekalipun dikemas menjadi hiburan. Suburnya pertumbuhan dunia hiburan memang terkadang tidak berjalan beriring dengan majunya pendidikan. Sumpah serapah tentang sinteron dan tayangan tak mendidik yang muncul di televisi seolah tak habis diteriakkan, tapi the show must go on, masyarakat memang begitu haus akan hiburan. Sulit dibantah apabila ada yang mengatakan bahwa pemerintah lumayan diuntungkan dengan adanya tayangan sinetron maupun gossip-gosip yang menggemparkan itu.

“Wow” adalah faktor yang selalu dicari, karena kodrat manusia memang senang dengan sesuatu yang mencengangkan, menakjubkan, menakutkan, pokoknya hal-hal yang tidak biasa. Mereka yang memahami teori modifikasi perilaku tahu persis menggunakan stimulus/perangsang apa yang akan dipakai untuk memunculkan suatu reaksi yang diinginkan. Dan kini semakin banyak tukang sulap bermunculan. Tugas mereka bukan lagi untuk menghibur, tetapi lebih untuk mengacaukan cara pandang dan berpikir kita.

Bagaimana dengan hidup kita? Jangan-jangan kita semua justru sedang terperangkap dalam imaji yang diciptakan oleh para “tukang sulap” itu, Saat ini agak sulit mengenali mereka, ada yang trendy dengan jas dan dasi rapi, mengutip ayat-ayat suci, memakai gamis, baju safari, hingga rok mini. Kita jadi begitu mudah ternganga, mudah kagum, mudah sebal, mudah marah, tapi juga mudah lupa. Tukang-tukang sulap itu seolah menggenggam hidup kita.

Semua memang tergantung penontonnya, kita perlu kenali, ada dua jenis tukang sulap di dunia: tukang sulap baik yang menghibur dan tukang sulap jahat yang terlihat seperti sedang menghibur dengan ucapan/senyuman/tangisan  tapi sebetulnya adalah mengalihkan perhatian kita, sehingga mereka leluasa “mengambil dompet” kita, tak jarang kita justru memberinya tepuk tangan dengan wajah penuh kekaguman.

Bukan maksud memuja Soeharto, tapi kata-katanya, Ojo Dumeh, ojo kagetan dan ojo gumunan, yang artinya, Jangan sombong, jangan mudah kaget dan jangan mudah terpana, patut kita renungkan)

(Artikel ini ditulis berdasarkan obrolan santai dengan teman saya, Ndaru Kuntoro)

Sim Salabim!

Iwan Esjepe

ilustrasi: indah esjepe