Riwayat Undangan Pernikahan

(Sebuah catatan kecil mengenang awal dari sebuah perjalanan: menikah).

Mungkin karena pekerjaannya sebagai seorang copywriter Iwan bersikukuh untuk merangkaikan kata-katanya sendiri ketimbang mengutip tulisan, puisi, atau ayat suci seperti yang biasa tercantum dalam undangan pernikahan pada umumnya. Tapi, ternyata menulis naskah untuk diri sendiri itu tidak mudah, berulang-kali Iwan mengutak-atik kata, berulang kali pula dia tak merasa sreg, sampai akhirnya, karena deadline juga :),  di undangan kami sepakat memilih tulisan seperti ini :

“Menikah, sebuah kata dengan jutaan arti di belakang hari,
doakan kami agar bisa merasakan ada banyak bahagia di dalamnya”.

Sebagai seorang desainer grafis, saya juga mengalami kesulitan dalam membuat desain undangan sendiri, tetapi berbeda dengan Iwan, saya memilih untuk mencari pertolongan desainer lain karena bisa-bisa desain tak pernah bisa selesai dan kartu undangan tidak akan pernah dicetak… :) Maka turun-tanganlah seorang Yani Soenarso, sahabat kami sekaligus senior saya di bangku kuliah, membantu mendesainkan undangan pernikahan kami itu.

Untunglah semuanya berjalan dengan lancar. Upacara pernikahan sederhana yang kami bayangkan ternyata berbeda dengan keinginan orang tua kami, mereka menginginkan sebuah pernikahan dengan upacara adat Jawa yang lengkap dan serius, Mungkin ini karena  kami berdua sama-sama anak pertama.

Rasa syukur tiada terkira, sampai di usia perkawinan yang ke-16 ini kami diberi begitu banyak kebahagiaan. Mohon doanya, semoga semua ini bisa terus berlanjut hingga kakek-nenek kelak. Aamiin.

salam,

indah dan iwan esjepe