Dulu Saya Orang Kaya

Di telapak tangan saya ada sekeping koin 100 rupiah, ada gambar burung kakatua raja di satu sisi dan lambang Garuda Pancasila di sisi baliknya. Saya perhatikan uang itu lebih seksama; saya ambil timbangan, beratnya 1,79 gram, saya ambil penggaris, diameternya 23 milimeter dan tebalnya 2 milimeter. Terasa ringan karena terbuat dari bahan alumunium.

Sambil mengamati koin 100 rupiah terbitan tahun 1999 ini saya bertanya pada Indah, “Masih bisa kita gunakan untuk membeli apa uang 100 rupiah ini?” Istri saya berpikir sebentar… sebentar… sebentar, lama ternyata dia harus berpikir, dan belum juga menemukan jawabannya. Ikyu ikut mencoba berpikir, tak kunjung terdengar pula suaranya. Bisa untuk membeli apa uang 100 rupiah di kota seperti Jakarta?

Lain halnya bila pertanyaan itu muncul di saat saya masih di Sekolah Dasar dulu, (Ya, ya, ya…betapa dulu-nya), Saya pernah jadi orang kaya, bisa jadi “boss kecil” yang dapat mentraktir jajan teman sekelas. Betapa tidak, dengan 5 rupiah saja kita sudah bisa dapat sebuah jajanan. Dengan 10 rupiah  jajanan akan lebih enak lagi. Bisa dibayangkan bukan, kalau saya punya 100 rupiah?

Koin seratus, riwayatmu kini…

Waktu berjalan, uang seratus rupiah terus menggelinding bak roda yang sedang melewati turunan curam. Harga karcis bis merambat naik, harga permen, gorengan, krupuk, sampai “rambut nenek” tak bisa lagi dibeli dengan uang rupiah nominal seratus. Pamornya makin merosot, nilainya kian anjlok.Nasib serupa dialami juga oleh uang koin lainnya, “uang kecil” itu telah betul-betul menjadi uang kecil yang seolah semakin tak  berdaya dan tak diperhitungkan. Hidupnya mirip nasib rakyat Indonesia. Ada tapi seolah tak berdaya. Bedanya, nasib koin tergantung pemakaianya, tapi nasib rakyat tergantung pada orang-orangnya. Ada yang menginginkan agar nasib rakyat menjadi seperti recehan juga, diinginkan kehadirannya, tapi kalau pun ada yang hilang tak perlu terlalu risau memikirkannya.

Ketika ditanya, besar mana antara uang satu juta rupiah dengan uang 100 rupiah, jawaban saya; sama, asal uang seratus itu ada 10.000 keping jumlahnya.

Apa yang kita pikirkan saat melihat sebuah gunung, atau saat mendengar kata “segunung”? Lukisan akan sebuah benda besarlah yang sering datang ke benak kita. Tapi kita sering lupa bahwa gunung besar itu sesungguhnya adalah kumpulan dari milyaran butir pasir yang bersatu.

Ah, koin seratus perak ini jadi mengingatkan saya betapa persatuan mampu melahirkan sebuah kekuatan yang luar biasa besarnya.

Uang receh, ayo kita berhimpun!

Salam,

Iwan Esjepe