Rayuan Sepanjang Zaman

Di seberang Supermarket KemChick Kemang, Jakarta, beberapa ekspatriat tampak berjalan cepat, langkahnya lebar, gerimis senja  ini membuat mereka tergesa menghindari kuyup dan dingin angin yang bertiup dari timur. Mobil dan motor sudah banyak yang menyalakan lampunya. Di luar hujan sedikit menderas, untung dinginnya tak menerobos masuk ke kedai kopi ini.

Secangkir cappuccino panas dan semangkuk keripik kentang menemani saya duduk di ruangan yang jumlah kursinya hanya sekitar 50 buah, tak sampai 60. Tak banyak hiasan di dindingnya, hanya ada satu poster berukuran lumayan besar dan mencolok terpampang di dindingnya, posisinya persis di hadapan saya.  Saat memperhatikan poster itu, bukan hanya wangi kopi yang saya hirup, saya juga merasa menghirup aroma propaganda yang kuat dipancarkan oleh poster itu. Propaganda, kajian yang selalu menarik buat saya.

Di Italia, orang pernah mendengar pidato Mussolini yang menggebu-gebu melawan kaum borjuis, di Soviet, Lenin mengajak kaum pekerja dunia untuk mendobrak belenggu kapitalisme yang dianggap hina untuk mencapai kebebasan yang diidamkan masyarakat tanpa kelas, di Republik Rakyat Cina kebencian Mao terhadap pembentukan “antirevolusi” komunis yang mengancam kekuasaannya, dan di Jerman, Hitler bukan saja melakukan aneksasi geografi tetapi juga menancapkan keyakinan bahwa posisi bangsa Aria adalah di atas segalanya, melalui propagada.

Il Duce Benito Musolini, Komrad Vladimir Lenin, Ketua Mao Zedong, dan Fuhrer Adolf Hitler, tidak hanya jago dalam berpidato, mereka juga percaya bahwa keberlangsungan kekuasaan sangat tergantung pada kemampuan mereka dalam membujuk hingga memaksa sebagian besar orang untuk membuat pilihan “realistis” berdasarkan kecukupan informasi, hal itulah yang membuat tokoh-tokoh di atas, khususnya Hitler, tidak main-main dalam mengolah ide. Kita bisa melihat betapa matangnya mereka dalam mempersiapkan materi komunikasi melalui poster-poster yang merupakan salah satu bentuk dari materi penunjang propaganda itu.

Poster propaganda Nazi, Jerman

Mungkin masih ada orang yang belum tahu, Adolf Hitler pernah punya cita-cita jadi seorang seniman; ia pernah dua kali melamar ke Akademi Vienna yang bergengsi, Der Bildenden Kunste (Akademi Seni), tetapi selalu gagal. Namun demikian hal tersebut tidak memadamkan jiwa seni dalam diri Hitler. Joseph Goebbels, menteri propagandanya, pernah mengatakan bahwa Hitler adalah seorang seniman yang terjun ke dunia politik untuk meringankan penderitaan bangsa Jerman, dan ia berjanji setelah memenangkan perang Hitler akan berkonsentrasi secara penuh di bidang seni.

Hitler memanfaatkan kekuatan poster dengan sangat serius. Saat Nazi berkuasa, mereka melakukan penelitian secara serius terhadap pengaruh psikologi pada poster yang hasilnya dimuat dalam buku Das politische Plakat (Poster politik) oleh Erwin Schockel. Buku tersebut mempelajari dampak desain poster politik Inggris, Amerika, Perancis, dan Jerman selama masa Perang Dunia I. Buku itu dipersiapkan untuk digunakan sebagai buku teks oleh para ahli propaganda Jerman.

Aldous Huxley, di buku Brave New World menulis: Dengan memanipulasi ‘kekuatan tersembunyi’ seperti yang dilakukan para ahli periklanan untuk membujuk kita agar membeli barang mereka—pasta gigi, merek rokok, kandidat politik,…. —Hitler membujuk rakyat Jerman untuk membeli seorang Fuhrer, filosofi gila, dan Perang Dunia ke-Dua.

Poster propaganda Anti Nazi buatan Amerika dan Inggris

Dalam Perang Dunia ke-Dua, propaganda Jerman tentu tak dibiarkan tanpa perlawanan, Inggris dan Amerika berusaha dan berhasil menjatuhkan Jerman melalui serangan poster yang isinya menggambarkan kekaisaran Jerman dan militernya sebagai iblis yang bertanggung jawab atas kekejaman yang tak terperikan.

Poster propaganda Fasis, Italia

Di Italia ceritanya lain lagi, Mussolini meminta kutipan kata-katanya dicetak dan ditempel pada gedung-gedung dan dinding di seluruh Italia. Yang paling sering dijumpai adalah tulisan “Mussolini ha sempre ragione” (Mussolini selalu benar) Pesan propaganda lain adalah moto “Me ne frego” (Saya tidak peduli), yang ditulis pada perban yang menutupi luka para serdadu.

Tak bisa dipungkiri lagi bahwa politik adalah seni….”pada saat tertentu seniman mencipta lewat inspirasi, politisi dengan keputusan. Keduanya bekerja dengan materi dan jiwa.” , itu adalah ucapan Benito Mussolini, 1926.

Sebelum Perang Dunia II desain poster Italia termasuk yang paling mencolok di Eropa. Pada awalnya gerakan fasis mampu membujuk seniman dengan gagasannya yang inovatif dan pesan politiknya yang ambigu, sebelum retorik fasis menjadi lebih buruk oleh pengaruh nazisme.

Poster propaganda komunis Rusia

Di Rusia muncul Vladimir Ilich Ulyanov, kita lebih mengenalnya sebagai V.I. Lenin, dan satu orang lagi yang juga patut dicatat dalam sejarah propaganda Rusia, Joseph Stalin. Wajah mereka tersebar dalam banyak poster. Lenin on the Tribune, karya Alexander  Gerasimov,  adalah poster yang paling banyak dicetak. Warna hitam dan merah mendonimasi materi propaganda cetak Rusia, termasuk ilustrasi-ilustrasi  karya Vladimir Lebedev. Pergantian kekuasaan pada Nikita Khurschev, Leonid Breznev, hingga Gorbachev tak banyak mengubah dominan warna merah dan hitam yang menjadi ciri khas dalam desain negeri Beruang Merah ini.

Poster propaganda Republik Rakyat Cina

Berbeda dengan gaya Rusia yang keras dan tegas, poster propaganda Republik Rakyat Cina termasuk dalam kategori poster cantik meskipun tetap bertenaga. Seniman-seniman berkualitas Cina melukiskan wajah Mao Zedong (Mao Tse-tung) beserta rakyat dari berbagai lapisan mulai dari petani, pelajar, hingga tentara. Jika Hitler menulis Mein Kamp, Rakyat Cina mengagungkan Little Red Book, visual rakyat dengan buku kecil merah di tangan banyak terpampang dalam poster propaganda Cina. Buku kecil merah itu adalah “panduan hidup” yang berisi 427 butir kutipan Mao.

Hingga hari ini, poster propaganda masih banyak diproduksi dan dijadikan senjata oleh rezim maupun pemerintahan di banyak negara. Sementara gaya propaganda klasik juga banyak diadopsi oleh para desainer maupun pelaku bisnis moderen.

Poster “propaganda” Liberica Coffee

Semakin malam eskpatriat yang masuk ke kedai kopi ini terlihat kian bertambah jumlahnya, selain karena menu makanan dan minumannya, bukan mustahil itu juga karena pengaruh poster di dinding dalam meyakinkan pengunjung bahwa mereka telah datang ke tempat yang tepat, bukan hanya untuk menikmati kopi, tapi juga untuk keluar dari mainstream, merdeka dari kedigdayaan kedai kopi yang konon sudah terlalu mendunia.

“Rayuan” dalam secangkir kopi

Di mangkuk tinggal sekeping keripik kentang yang tersisa, saya comot sambil merapikan tas untuk segera pulang. Saya senang bisa menunggu hujan di kedai kopi ini. Selain karena rasanya yang enak, hati saya juga lega karena kopinya 100% memakai biji kopi Indonesia, 100 % milik orang Indonesia pula. Dengan cara yang “sederhana” kita bisa menyokong kedai kopi milik bangsa sendiri. Apakah ini propaganda juga?

Salam,

Iwan esjepe