Mengapa orang Portugis menamainya Flores?

Sejak menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia (Seven wonders of the world) mata dunia makin banyak yang tertuju pada komodo (varanus komodoensis), satwa purba yang masih tersisa di bumi yang semakin tua ini. Perjalanan ke Pulau Komodo bukanlah perjalanan mudah, sekaligus bukan perjalanan murah. Bisa jauh lebih mahal dibanding jika kita mau pergi ke Singapura, Malaysia, Vietnam, maupun Thailand. Dari Jakarta pesawat mesti mampir ke Denpasar kemudian ganti dengan pesawat kecil melanjutkan ke Labuanbajo di ujung kiri Pulau Flores.

Ikyu tampak antusias, meski sempat sedikit was-was saat mendengar keganasan komodo yang katanya bisa berlari cepat, memanjat, dan berenang mengejar mangsanya. Indah yang sudah banyak mendengar cerita tentang keelokan alam Flores pun sepertinya tak sabar untuk segera pergi. Bersama Decyca, sahabat kami, berangkatlah kami ber-empat ke sana.

Transit di Denpasar sekitar satu jam untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan naik pesawat Merpati MA 60. Jarak tempuh menuju Labuanbajo memerlukan waktu sekitar satu jam saja, waktu yang lumayan untuk melanjutkan tidur. Ikyu membangunkan saya ketika pemandangan pulau-pulau indah di NTT yang dikelilingi oleh laut yang berwarna biru tua tampak terhampar di bawah. Langit sedang bagus, pesawat mendarat dengan halus tanpa banyak guncangan. Sampailah kami di Bandara Labuanbajo, dua patung komodo jadi ikon di depan bangunan bandara yang sangat sederhana. Sistem pengambilan barang dilakukan secara manual, tanpa ban berjalan layaknya di terminal udara besar lainnya.

Memang agak aneh mendengar logat Minang di Flores ini, tapi itulah faktanya. Ashar, lelaki yang menjemput kami adalah lelaki asal Padang, Sumatera Barat yang sudah sekitar tujuh tahun merantau di Labuanbajo, dengan cekatan Ashar membantu kami memasukkan ransel dan perbekalan ke dalam mobilnya,

“Labuanbajo kota kecil, hanya satu kilometer lebih sedikit dari sini menuju pusat kota”, ujarnya. Pusat keramaian Labuanbajo boleh dibilang adalah sepanjang jalan sekitar pelabuhan. Hari pertama kami menginap di Losmen Diaz, penginapan kecil yang suuuangat sederhana ini letaknya dekat dengan sebuah lapangan, tak jauh dari pelabuhan, sepertinya losmen ini adalah langganan para sopir truk angkutan ekspedisi antar pulau. Enaknya tidur disini tentu bukan karena fasilitas kamarnya, tapi karena bisa ngobrol dengan sopir-sopir truk yang sedang menunggu kapal datang. Mulai dari cerita lucu, menyeramkan sampai aneka pungli yang sering mereka jumpai di sepanjang perjalanan. Perjalanan berhari-hari juga sering membuat mereka sangat rindu keluarga di rumah.

Esok harinya, kami bangun pagi-pagi sekali. Hari ini kami pergi ke Pulau Komodo, sekitar empat jam perjalanan dengan kapal, jika laut sedang bersahabat mungkin lebih cepat. Walau akan menginap di tengah laut, kami tak perlu membawa banyak barang, soal makan dan minum selama 24 jam ke depan sudah disiapkan oleh Pak Aco, nakhoda kapal dan asistennya yang bernama Muslim. Di tengah perjalan menuju Pulau Komodo, kapal berhenti di sekitar Pink Beach, sebuah pantai cantik dengan pasir berwarwa merah muda saat diterpa sinar matahari, dan berenang di situ. Tiba di Pulau Komodo, suasana terlihat sepi, beberapa ranger tampak sedang istirahat dan berteduh dari sengatan matahari yang siang itu amat sangat teriknya bersinar. Masuk ke Taman Nasional Komodo ini terasa bagaikan masuk dalam film Jurrasic Park, berjalan pelan, sambil terus waspada, selalu curiga saat merasa ada yang bergerak di balik semak-semak.

Selain di Pulau Komodo atau Loh Liang, Komodo juga bisa temui di Pulau Rinca atau Loh Buaya. Pulaunya lebih kecil, lebih teduh, tapi jumlah komodonya lebih banyak. Tenang saja, selama di dalam perjalanan melihat komodo, kita akan selalu ditemani oleh ranger yang sudah berpengalaman menghadapi komodo. Petualangan seperti ini pasti akan sangat mengasyikan jika kita juga mengajak anak-anak yang berusia sembilan tahun ke atas. Kalau terlalu kecil kasihan, nanti kecapekan, kecuali kalau orang tuanya masih kuat menggendong selama trekking.

Flores tak cuma Labuanbajo, Pulau Rinca, dan Pulau Komodo, mampirlah ke Pulau Kanawa, pasir pantainya putih bersih, air lautnya jernih, nyaris seperti sedang liburan di Maldives. Bukan hanya pesona lautnya saja, bergeraklah ke arah daratan, pegunungan Flores menyimpan begitu banyak keindahan alam dan kekayaan budaya yang luar biasa. Wisata Goa Batu Cermin bisa kita datangi hanya dalam tempo 15 menit perjalanan mobil dari arah pelabuhan. Buat yang senang dengan wisata goa, Batu Cermin punya keunikan tersendiri, jalur masuknya lumayan sempit, terkadang harus menunduk dan merangkak, wajib berhati-hati karena banyak stalaktit dan stalakmit runcing di dalamnya.


Di kampung Melo kita bisa melihat perajin tenun yang biasa memakai pewarna alami dalam memperindah karyanya. sayang kami tak bisa melihat Caci, tarian adat warga Manggarai yang sangat terkenal itu. Untuk menyaksikan tarian itu kita harus mengikuti jadwal atau memesan dulu sebelumnya.


Cerita ini baru secuil kecil tentang keindahan Flores, masih banyaaaak sekali tempat menarik untuk didatangi. Sepulang ke Jakarta nanti, kami ingin menabung, agar bisa mengulangi lagi petualangan ke Flores, nama tempat indah dari bahasa Portugis yang berarti, bunga. Well, Flores memang mempesona.

Salam,

iwan esjepe