katak1 February 23

Menjadi Saksi Perkawinan Katak

Kesibukan manusia modern kian hari terasa makin bertambah saja, dan tuntutan untuk semakin cepat dalam pengerjaannya juga semakin tinggi, karena peningkatan jumlah kegiatan itu tidak diikuti dengan bertambahnya waktu. Dari zaman batu hingga sekarang, waktu tak pernah berubah, sehari-semalam 24 jam, 7 hari dalam seminggu, 365 hari dalam setahun. Berbagai alat untuk menunjang pekerjaan dan hidup manusia agar lebih cepat, mudah, dan nyaman sudah banyak diciptakan dan terus-menerus dikembangkan. Manusia yang mulanya hanya berjalan kaki, lalu naik kuda, kemudian naik sepeda, kini bisa naik motor, naik mobil, naik kereta, dan naik pesawat. Pesawat pun ada banyak macamnya, mulai dari yang masih dalam kecepatan normal hingga supersonic yang konon lebih laju dari kecepatan suara.

Tapi tetap saja sedari subuh, sebelum matahari terbit, sebelum berangkat keluar rumah, kita sudah tergopoh-gopoh dikejar oleh keterburuan, cepat-cepat mandi, cepat-cepat berpakaian, cepat-cepat makan, cepat-cepat berangkat kerja. Jangankan menyapa tetangga kiri-kanan dan orang-orang yang kita jumpai di jalan, berpamitan dengan orang rumah pun jangan-jangan kita juga tak sempat. Sementara itu, di jalanan kita saling berebut duluan, saling serobot, ngebut, tak mau terlambat. Begitu pun ketika pulang ke rumah, waktu seolah selalu memburu, ujung-ujungnya kita selalu terengah-engah kelelahan berpacu dalam melawan waktu.

Kecepatan seolah menjadi kunci, siapa cepat, dialah yang dapat. Jika dulu orang mengirim telegram agar berita bisa lekas sampai, sekarang orang sudah menggenggam telepon, saking tak ingin kehilangan waktu, tak sedikit orang yang menelepon sambil naik motor atau mengemudi mobil. Twitter lebih gila lagi, kata “mencari informasi” seolah sudah menjadi sangat usang karena kini justru informasi itulah yang datang menghampiri kita, dalam hitungan menit bisa ribuan berita datang menyerbu. Begitu derasnya arus informasi yang datang, hingga kita (lagi-lagi) tak punya waktu untuk memilah mana berita yang penting dan mana yang tidak, mana yang benar dan mana yang hoax.

Begitu pula dalam dunia kuliner, di kota kian menjamur restoran cepat saji, para tamu tak perlu lama menunggu, begitu duduk bisa langsung makan, langsung bayar, langsung pergi. Semua serba instan.

Kecepatan gerak tokoh Eugene Thompson alias Flash dalam komik Marvel kini seolah sudah dimiliki oleh orang-orang di kota. Dalam hiruk pikuk ketergesaan, manusia modern jarang punya waktu lagi untuk menikmati kehidupan alamiah. Kita jadi kehilangan kesempatan menikmati proses, kehilangan kesempatan menikmati momen-momen indah yang sebetulnya berserakan di sekitar kita.

Seorang paman kami, Ho, adalah pekerja keras, secara materi boleh dibilang dia punya segalanya, tapi, di masa tuanya dia dirundung rasa sesal karena tak sempat menikmati masa-masa di mana anaknya tumbuh. Bangun pagi, seharian dan kadang hingga malam bekerja. Ketika berangkat anaknya belum bangun, saat pulang, anaknya sudah pulas tidur. Paman Ho tak pernah sempat melihat bunga yang tumbuh di halaman rumahnya yang luas, tak punya waktu untuk menghitung jumlah ikan koi peliharaannya. Semua terfokus pada kerja, kerja, dan kerja.

Teman kami, Ndaru Kuntoro, pernah bilang, “Orang yang terlalu fokus terhadap satu hal cenderung akan kehilangan sensitifitas pada perubahan alam sekitar dan waktu”. Mungkin yang dia maksud adalah begini: acapkali kita terkejut akan sebuah peristiwa/kondisi yang seolah-olah mendadak munculnya, padahal kejadian itu adalah rentetan dari peristiwa-peristiwa kecil yang terjadi sebelumnya.

Pengalaman paman Ho menggugah pikiran kami pagi ini, kerja keras memang penting, tapi bukan berarti harus berkaca mata kuda dan abai pada sekitarnya. Apa arti sampai tujuan kalau kita tidak menikmati indahnya pemandangan di perjalanan?

katak1

Entah apa karena kebetulan, sambil melamun kami melihat katak kawin di jambangan, tempat tanaman teratai tumbuh, di halaman rumah, peristiwa ini mungkin yang membuat kami tak akan terkejut apabila kemudian akan muncul telur, berudu atau kecebong, dan kemudian anak katak yang kelak tumbuh jadi katak dewasa. Dua katak itu sama sekali tak terlihat buru-buru, mereka tampak sangat khusuk menikmati proses perkawinannya. Kehadiran kami tak membuat mereka melompat pergi, semakin lama, semakin baik, mungkin begitu pikir mereka.

Memang terkadang cepat itu penting, tapi tak semua harus cepat-cepat bukan? Anda setuju?

Salam,

Indah dan Iwan Esjepe