Pesona Des Indes

hotel-des-indes-1

Bulan Desember di Eropa cuacanya memang sedang tidak bersahabat, hujan, salju, dan anginnya yang kencang membuat manusia tropis seperti saya dan Indah jadi menggigil kedinginan. Jaket tebal, syal, sarung tangan, dan sepatu bot tak cukup membuat kami merasa nyaman. Saat harus berjalan di luar rumah, sering kali Indah harus memperbaiki payungnya yang “rusak” karena tak mampu menahan terpaan angin yang keras. Langkah kaki pun harus dipercepat, selain agar lekas sampai tujuan, langkah cepat juga adalah cara kami untuk membuat tubuh bergerak menghangatkan suhu badan. Tetapi jalan yang basah juga memaksa kami untuk hati-hati berjalan, menghindari kubangan kecil atau terpeleset.

Siang itu kami menyusuri jalan dari Heulstraat melewati Kloosterkerk terus mengikuti Lange Voorhout. Beberapa orang terlihat berdiri di halte trem sambil menghisap rokok untuk mengusir dingin, seorang perempuan muda dengan jaket dan kapucong penutup kepalanya yang basah menggigit bibir sendiri sambil mengayuh sepeda, tergesa-gesa. Pohon-pohon yang gundul tak berdaun makin membuat suasana semakin kelabu dan muram. Saya sempat mendengar Indah beberapa kali mengumpat, “Jahanam!”, setiap angin kencang bertiup. Hahaha, manusia tropis sejati seperti kami memang tak berdaya saat berada di iklim seperti itu.

Perasaan lega baru muncul setelah kami sampai di Lange Voorhout 54-56, tujuan kami. Hotel Des Indes berdiri di depan mata. Dalam beberapa kali kesempatan datang ke Den Haag tak pernah kami punya waktu untuk mampir ke hotel dengan bangunan bercat kuning pucat dan abu-abu ini, padahal letak hotel tua ini masih di jantung kota, tak jauh dari Escher Palais dan beberapa bangunan tua penting kerajaan Belanda.

Dibanding hotel lain di negeri kincir angin ini, Des Indes memang sangat menarik perhatian kami, mungkin karena hotel bernama sama juga pernah berdiri di Jakarta, persisnya di Jl Gajah Mada. Di zamannya, konon kemewahan Des Indes Batavia itu 10 kali kemewahan hotel Raffles di Singapura. Sayang Des Indes yang di Jakarta sudah dirubuhkan pada tahun 1971 dan berganti wujud menjadi Duta Merlin. Begitu pun Des Indes Den Haag ini, catatan panjang sejarahnya menuliskan banyak cerita, dengan banyak pelaku di dalamnya, mulai dari para raja, tokoh politik dan pemerintahan, hingga selebriti sejak awal tahun 1881.

Masuk ke hotel Des Indes memang membuat imajinasi kami melayang, membayangkan suasana masa silam seperti yang sering kami lihat dalam film-film bertema klasik. Lantai, dinding dan langit-langit, pilar-pilar marmer, dan ornamen interiornya bergaya klasik dari berbagai era. Lampu kristal yang memantulkan cahaya keemasan dengan dominasi kursi dan dinding berwarna merah marun yang hangat menyapa kami di lounge room. Sebuah suasana khas masa lalu yang tiba-tiba ini seolah mengusir dingin yang mencengkeram kulit dan tulang-tulang kami. Kerabat kami, Ruud dan Julie memilihkan sudut terbaik untuk menikmati high tea, aneka kue manis dan gurih dengan teh hangat, betul-betul nikmat rasanya. Selain kenangan masa lalu, Des Indes juga menyajikan makanan dan minuman yang istimewa. Membayangkan suasana di luar  yang dingin dan diguyur hujan membuat kami enggan untuk beranjak dan memilih untuk berlama-lama di hotel Des Indes ini.

Suasana muram menuju Des Indes

Suasana muram menuju Des Indes

Hotel Des Indes yang bersejarah.

Hotel Des Indes yang bersejarah.

Interior lounge yang baru selesai direnovasi
Pemandangan lounge room dari mezanin

Pemandangan lounge room dari mezanin

Hotel-des-Indes-3

Sudut Des Indes yang romantis

Des Indes DH 3

Menunggu teh pesanan datang